Minggu, 09 Juni 2013

Laporan Hasil Observasi Sekolah

Anggota          :           1. Riska Andani Simargolang (12-012)
                                    2. Abdul Hakim (12-024)
                                    3. Dika Lestari (12-022)
                                    4. Maulidya Khairiyah (12-026)
                                    5. Carla Marsha (12-108)
Tugas              :           Laporan Observasi Sekolah
Mata kuliah   :           Psikologi Pendidikan

“LAPORAN HASIL OBSERVASI”

A.               IDENTITAS SEKOLAH

1.      Nama Sekolah                               :  MAN 2 Model Medan
2.      Alamat Sekolah                             :  Jalan Willem Iskandar No. 7A Pancing      
3.      Uang Sekolah                                :  Unggulan : Rp. 285.000.00,-
                                                         Reguler    : Rp. 90.000.00,-
4.      Konsep E-learning                        :  Offline : Projector Untuk Tiap Kelas, Power Point, 
                                                         Online  : Website Sekolah Dan Wifi
                                                                        (http://man2medan.wordpress.com/)
5.      Sejak Kapan Digunakan               :  Sejak Tahun 2010
6.     
Hanya pada kelas observasi ( X-2)
 
Total siswa dalam satu ruangan    :  Laki – laki : 6 Orang
                                                               Perempuan : 17 orang       

B.      URAIAN AKTIVITAS OBSERVASI

1.      Hari Pelaksanaan                           : Sabtu
2.      Waktu Pelaksanaan                       : 1 Juni 2013, jam: 11.05 - 12.10
3.      Pembagian Tugas                          :    1. Riska Andani S.  (Dokumentasi, Print out angket)
                                                               2. Dika Lestari (Dokumentasi, Snack partisipan)
                                                               3. Maulidya Khairiyah (Dokumentasi, Snack partisipan)
                                                               4. Carla Marsha (Notulen, Wawancara)
                                                               5. Abdul Hakim (Dana)
4.      Narasumber                                   :   - Seluruh siswa/siswi kelas unggulan X-2
-   Pak Pandapotan
5.      Metode                                          : Observasi, Kuesioner dan Wawancara

C. LAPORAN HASIL OBSERVASI

I.            PENDAHULUAN
Saat ini dunia pendidikan sedang menggonjang-ganjingkan sistem belajar dengan menggunakan e-learning. Dimana banyak sekali manfaat dari e-learning itu sendiri ini secara teorinya. Namun, bukan berarti e-learning tidak memiliki dampak yang negatif, pasti ada. Semua tergantung pihak pengajar dalam memantau para siswanya dalam penggunaan e-learning tersebut.
Seberapa efektifkah e-learning untuk digunakan di dunia pendidikan? Seberapa siapkah pengajar dalam memantau kegiatan anak didiknya? Seberapa banyakkah dampak negative yang dari penggunaan e-learning? Dengan membawa pertanyaan-pertanyaan tersebut kelompok melakukan observasi ke sekolah yang telah menggunakan e-learning. Dan akan dibahas lebih lanjut di dalam laporan ini.

II.            LANDASAN TEORI
Murid-murid dewasa ini tumbuh di dunia yang jauh berbeda dengan di masa ketika orang tua dan kakek mereka masih menjadi murid. Jika murid ingin siap kerja, teknologi harus menjadi bagian integral dari sekolah dan pelajaran di kelas (Earle, 2002; Geisert & Futrell, 2000; Sharp, 2002). Ada empat unsur yang kami gunakan sebagai landasan dari observasi sekolah mengenai e – learning yang telah kami lakukan, diantaranya adalah :

A. Teori Belajar
Pembelajaran (learning) merupakan pengaruh yang relatif permanen atas perilaku, pengetahuan, dan keterampilan berpikir yang diperoleh melalui pengalaman. Terdapat dua pendekatan untuk pembelajaran yang kami jadikan landasan pada teori belajar dalam pembahasan e-learning ini, yaitu Teori Behaviorisme dan Teori Kognitif Sosial. Behaviorisme merupakan pandangan yang menyatakan bahwa perilaku harus dijelaskan melalui pengalaman yang dapat diamati, bukan dengan proses mental. Pendekatan behavioral untuk pembelajaran ini terbagi menjadi dua, yaitu : Pengkondisian Klasik (Classical Conditioning) dan Pengkondisian Operan (Operant Conditioning). Pengkondisian klasik dan operan menekankan pada pembelajaran asosiatif (associative learning). Pengkondisian klasik itu sendiri merupakan bentuk pembelajaran asosiatif di mana stimulus netral diasosiasikan dengan stimulus yang bermakna dan memunculkan kemampuan untuk mengeluarkan respons yang serupa, sedangkan pengkondisian operan merupakan bentuk pembelajaran di mana konsekuensi-konsekuensi dari perilaku menghasilkan perubahan pada kemungkinan perilaku yang akan diulangi. Hukum efek (law effect) Thorndike menyatakan bahwa perilaku yang diikuti dengan hasil positif akan diperkuat dan bahwa perilaku yang diikuti hasil negatif akan diperlemah. Sedangkan pengkondisian operan, di mana konsekuensi perilaku akan menyebabkan perubahan dalam probabilitas perilaku itu akan terjadi, merupakan inti dari behaviorisme Skinner (1938).
Teori Kognitif Sosial (social cognitive theory) menyatakan bahwa faktor sosial dan kognitif, dan juga faktor perilaku, memainkan peran penting dalam pembelajaran. Faktor kognitif mungkin berupa ekspektasi murid untuk meraih keberhasilan; faktor sosial mungkin mencakup pengamatan murid terhadap perilaku orang tuanya. Proses pembelajaran yang berkontribusi pada teori kognitif sosial ini merupakan pembelajaran observasional. Pembelajaran Observasional disebut juga disebut imitasi atau modelling, adalah pembelajaran yang dilakukan ketika seseorang mengamati dan meniru perilaku orang lain.

B. Motivasi
Motivasi adalah proses yang memberikan semangat, arah dan kegigihan prilaku. Artinya, prilaku yang termotivasi adalah perilaku yang penuh energi, terarah dan bertahan lama. Perspektif psikologi menjelaskan motivasi dengan cara yang berbeda berdasarkan perspektif yang berbeda pula, terdapat 4 perspektif, yaitu : Behavioral, humanistis, kognitif dan sosial.
Perspektif behavioral menekankan imbalan dan hukuman eksternal sebagai kunci dalam menentukan motivasi murid. Insentif sendidri adalah peristiwa atau stimuli positif atau negatif yang dapat memotivasi prilaku murid, pendukung penggunaan insentif menekankan bahwa insentif dapat menambah minat atau kesenangan pada pelajaran, dan mengarhakan perhatian pada perilaku yang tepat dan menjauhkan mereka dari prilaku yang tidak tepat ( emmer, dkk ; 2000).
Perspektif humanistis menekankan pada kapasitas murid untuk mengembangkan kepribadian, kebebasan untuk memilih nasib mereka. Perspektif ini berkaitan erat dengan pandangan abraham maslow, bahwa kebutuhan dasar tertentu harus dipuaskan dahulu sebelum memuaskan kebutuhan yang lebih tinggi.
Perspektif kognitif menekankan bahwa pemikiran muridlah yang akan memandu motivasi mereka sendiri. Perspektif ini juga menekankan arti penting dari penentuan tujuan, perencanaan dan monitoring kemajuan menuju suatu tujuan (Schunk & Ertmer, 2000; Zimmerman & Schunk, 2001)
Perspektif sosial menekankan kepada kebutuhan afiliasi atau keterhubungan yaitu motif untuk berhubungan kepada orang lain secara aman, kebutuhan afiliasi murid tercermin dalam motivasi mereka untuk menghabiskan waktu bersama teman, kawan dekat, ketertarikan mereka dengan orang tua, dan keinginan untuk menjalin hubungan positif dengan guru.
Bentuk motivasi ada dua yaitu : Motivasi Instrinsik dan Motivasi Ekstrinsik. Motivasi Intrinsik adalah motivasi internal untuk melakukan sesuatu demi ssuatu itu sendiri (tujuan itu sendiri), sedangkan Motivasi Ekstrinsik adalah melakukan sesuatu untuk medapatkan sesuatu yang lain (cara untuk mencapai tujuan), motivasi ini sering juga dipengaruhi oleh insentif eksternal seperti punishment dan reward.
Carol Dweck dan rekannya (Dweck, 2002., Henderson dan Dweck, 1990., Dweck dan Leggett, 1988) telah menemukan bahwa anak menunjukkan dua respon yang berbeda terhadap tantangan atau situasi yang sulit, yaitu : orientasi untuk menguasai (mastery orientation), orientasi tak berdaya (helpless orientation). Anak dengan orientasi untuk menguasai akan fokus pada tugas ketimbang pada kemampuan mereka, punya sikap positif dan menciptakan strategi berorientasi solusi yang meningkatkan kinerja mereka. Sedangkan anak dengan orientasi tak berdaya berfokus pada ketidakmampuan pada personal mereka, seringkali mereka mengatributkan kesulitan mereka pada kurangnya kemampuan, dan menunjukkan sikap negatif (termasuk kejemuan dan kecemasan).
Teori Mc.Celland mengenai hal-hal yang memotivasi seseorang, yaitu : Kebutuhan akan prestasi (Need for Achievement = n.Ach), Kebutuhan akan afiliasi (Need for Affiliation = n.Aff), dan Kebutuhan akan kekuatan (Need fo Power = n.Pow).

C. Orientasi Belajar
Orientasi belajar yang Kami bahas pada observasi e-learning ini adalah Pendekatan Teacher Centered Learninga (TCL), dan Pendekatan Student Centered Learning (SCL). Banyak strategi TCL merefleksikan instruksi langsung. Instruksi langsung (direct instruction) itu sendiri merupakan pendekatan TCL yang terstruktur yang dicirikan oleh arahan dan kontrol guru, ekspektasi guru yang tinggi atas kemajuan murid, meksimalkan waktu yang dihabiskan murid untuk tugas-tugas akademik, dan usaha oleh guru untuk meminimalkan pengaruh negatif terhadap murid (Joyce & Weil, 1996). Tujuan penting dari instruksi langsung adalah memaksimalkan waktu belajar murid (Stevenson, 2000). Menurut Hall: 2006, SCL adalah tentang membantu siswa menemukan gaya belajarnya sendiri, memahami motivasi dan menguasai keterampilan belajar yang paling sesuai bagi mereka. Hal tersbeut akan sangat berharga dan bermanfaat sepanjang hidup mereka.
Lea, Stephenson, dan Troy (2003 dalam O’Neill & McMahon, 2005) mendefinisikan SCL secara lebih luas yaitu bahwa SCL mencakup : ketergantungan terhadap belajar aktif, penekanan terhadap belajar secara mendalam, pemahaman, meningkatnya tanggung jawab di pihak siswa, meningkatnya perasaan otonomi pada pembelajaran, saling ketergantungan antara guru dan siswa. SCL lebih merupakan suatu pendekatan pembelajaran yang refleksif baik bagi pihak siswa maupun guru. Pembelajaran berbasis problem adalah pendekatan learned-centered. Dalam pembelejaran berbasis problem , perencanaan dan instruksinya sangat berbeda dengan pendekatan TCL. Pembelajaran berbasis problem menekankan pada pemecahan masalah/problem kehidupan nyata. Kurikulum berbasis problem akan emmberi problem rill/nyata kepada murid, yakni problem yang muncul dalam kehidupan sehari-hari (Jones, Rasmussen, & Moffitt, 1997).

D. Manajemen Kelas
Manajemen kelas merupakan bagian integral pengajaran efektif yang mencegah masalah perilaku melalui perencanaan, pengelolaan, dan penataan kegiatan belajar yang lebih baik, pemberian materi pelajaran yang lebih baik dan interaksi guru-siswa yang lebih baik.
Manajemen kelas yang efektif mempunyai dua tujuan, yaitu: membantu murid menghabiskan lebih banyak waktu untuk belajar dan mengurangi waktu aktivitas yang tidak diorientasikan pada tujuan, dan mencegah murid mengalami problem akademik dan emosional.
Terdapat empat prinsip dasar dalam penataan kelas (Evertson, Emmer, & Worsham, 2003) :  kepadatan di tempat lalu-lalang dikurangi, pengajar dapat dengan mudah melihat seluruh murid, materi pengajaran dan perlengkapan murid harus mudah diakses, murid dapat dengan mudah melihat semua presentasi kelas.
Terdapat pula gaya penataan kelas standar yang paling mendukung aktivitas tertentu (seluruh kelas, kelompok kecil, tugas individual, dan lain-lain), yaitu : gaya auditorium (semua murid menghadap guru), gaya tatap muka (murid saling menghadap), gaya off-set (sejumlah murid biasanya tiga atau empat duduk di bangku tapi tidak berhadapan langsung satu sama lain), gaya seminar (10 atau lebih murid duduk disusun berbentuk lingkaran, atau persegi, atau bentuk U), gaya klaster (4-8 murid bekerja dalam kelompok kecil).
Santrcok (2004) menjelaskan strategi umum dalam gaya manajemen kelas, yaitu : gaya manajeman kelas otoritatif, gaya manajeman kelas otoritarian, gaya manajeman kelas yang permisif. gaya manajeman kelas otoritatif berasal dari gaya parenting menurut Diana Baumrind (1971, 1996). Guru yang otoritatif melibatkan murid dalam kerja sama give and take dan menunjukkan sikap perhatian kepada mereka. Guru yang otoritatif akan menjelaskan aturan dan regulasi, menentukan standar dengan masukan dari murid.
Gaya manajeman kelas otoritarian adalah gaya yang restriktif dan punitif. Fokus utamanya adalah menjaga ketertiban di kelas, bukan pada pengajaran dan pembelajaran. Guru otoriter sangat mengekang dan mengontrol murid dan tidak banyak melakukan percakapan dengan mereka. Muridnya pun cenderung pasif, tidak mau membuat insiatif aktivitas, mengekspresikan kekhawatiran tentang perbandingan sosial, dan memiliki keterampilan komunikasi yang buruk.
Sedangkan gaya manajeman kelas permisif memberi banyak otonomi pada murid tapi tidak memberi banyak dukungan untuk pengembangan keahlian pembelajaran atau pengelolaan perilaku mereka. Tidak heran murid di kelas permisif cenderung memiliki keahlian akademik yang tidak memadai dan kontrol diri yang rendah.

III.            OBJEK OBSERVASI
Adapun objek observasi bersentuhan dengan topik pembahasan : Teori Belajar, Motivasi, Orientasi Belajar, dan Manajemen Kelas.
A.       Teori Belajar
Pada topik teori belajar yang kami tekankan, yaitu : teori behaviorisme dan teori kognitif sosial.

B.       Motivasi
Pada topik motivasi kami menekankan pada perspektif dari motivasi, yaitu : perspektif behavioral, perspektif humanistis, perspektif kogniti, dan perspektif sosial. Selain itu, juga bentuk dari motivasi itu sendiri, yakni apakah murid tersebut memiliki motivasi intrinsik atau motivasi ekstrinsik. Dan Kami melihat kepada orientasi motivasi, apakah dari hasil observasi murid memiliki orientasi untuk menguasai atau orientasi untuk tidak berdaya.

C.       Orientasi Belajar
Pada topik orientasi belajar ini terdapat dua pembagian, yaitu apakah sistem pengajaran di kelas mempergunakan sistem TCL atau SCL. Dengan membandingkan karakteristik dari TCL maupun SCL yang lebih dominan dan lebih sering dipergunakan dalam kelas tersebut.

D.       Manajamen Kelas
Pada topik manajemen kelas Kami fokus pada desain kelas, fisik kelas, dan gaya manajemen kelas. Dimana pada desain kelas kami melihat pada prinsip penataan kelasnya dan gaya penataan bangku seluruh siswa. Prinsip penataan kelas ini terdiri atas : kepadatan tempat lalu lalang, pengajar mudah melihat seluruh siswa, materi pengajaran dan perlengkapan mudah diakses, dan murid mudah melihat seluruh presentasi. Sedangkan pada gaya pentaan kelas (struktur bangku siswa), kami melihat apakah pada kelas tersebut lebih mengarah ke gaya penataan yang bagaimana. Apakah itu auditorium, tatap muka, off-set, seminar, atau klaster. Dan pada bagian gaya manajemen kelas, kami menilai apakah kelas tersebut menggunakan gaya manajemen otoritatif, otoritarian, atau permisif.

IV.            JADWAL PELAKSANAAN
Sabtu, 1 Juni 2013 pukul 11.05 WIB

V.            PELAKSANAAN
Jam
Kegiatan yang Dilakukan
10.30 – 11.00
Stand by dan melakukan sosialisasi dengan guru
11.05 – 12.10
Observasi dengan metode non – partisipan
12.10 – 12.20
Pembagian dan pengisian kuesioner
12.15 – 12.20
Wawancara


VI.            LAPORAN PENELITIAN
            Sekolah sudah menetapkan e–learning secara online maupun off-line. Namun penerapan sistem e-learning tersebut belum secara total diaplikasikan pada setiap mata pelajaran di MAN 2 Model Medan. Jaringan wifi sekolah juga kurang mencukupi kebutuhan siswa-siswi, karena jaringannya yang lambat. Oleh sebab itu, pengaplikasian e-learning online pun tidak begitu terlaksana dengan efektif dan efesien. Namun demikian, e-learning sistem off-line di setiap kelas sudah terlaksana pada beberapa mata pelajaran dan cukup efektif pada proses pembelajaran. Begitu juga dengan diskusi kecil dan tugas individual. Akan tetapi Sekolah masih belum memfasilitasi bahan ajar / materi pelajaran secara online, walaupun sekolah sudah memiliki website sendiri.
Berikut hasil laporan observasi kelompok kami dan hasil kuesioner dengan partisipan seluruh siswa/siswi unggulan X-2 :
-       Dilihat dari aspek motivasinya, para siswa sangat antusias mendengarkan guru menjelaskan materi. Hal ini juga terlihat dari hasil kuesioner, di mana representasi motivasi siswa tergolong tinggi. Namun motivasi yang tergolong tinggi pada kelas tersebut adalah motivasi ekstrinsik. Dan dari hasil observasi kami juga dapati bahwa kelas lebih mengarah pada motivasi dengan perspektif behavioral dan humanistis.
-       Dari aspek orientasi belajar, Sekolah menerapkan sistem SCL dan TCL. Dari hasil kuesioner kami dapati bahwa siswa lebih berorientasi pada sistem SCL, namun dalam fakta observasi dan wawancara ternyata kami temukan bahwa sistem SCL tidak terlaksana secara menyeluruh pada setiap mata pelajaran. Karena pada beberapa guru masih mempergunakan sistem pengajaran TCL. Di samping itu, bahan ajar juga tidak disediakan sekolah secara online walaupun sebenarnya sekolah sudah memiliki website pribadi. Namun, memang pada sebagian guru yang menerapkan sistem SCL ini memperbolehkan kepada siswa untuk mencari informasi terkait pembahasan mata pelajaran tertentu dari berbagai macam informasi secara online (dari internet) maupun offline (koran,majalah,artikel).
-       Dari aspek manajemen kelas, Sekolah sudah memfasilitasi perangkat dan kondisi kelas yang nyaman dan efektif dalam proses belajar. Kelas terlihat bersih, di bagian belakang kelas terdapat deretan locker penyimpanan barang-barang para anak didik, dan di sudut kiri depan kelas terdapat lemari hias. Kelas yang sangat nyaman untuk belajar. Dari keterangan Pak Pandapotan, kelompok memperoleh informasi bahwa setiap kelas di MAN 2 Model Medan telah dipasang projector dan layarnya secara permanen. Selain itu, pada setiap kelas menerapkan gaya penataan kelas auditorium yakni seluruh siswa duduk menghadap pengajar/guru. Gaya manajemen kelas menerapkan gaya otaritatif, di mana terjalin kerja sama antara murid dan guru (give and take).
-       Dilihat dari aspek teori belajar, kami dapati dari hasil kuesioner bahwa kelas lebih menerapkan teori belajar kognitif sosial di mana hal ini mengidentifikasikan bahwa faktor sosial dan kognitif, dan juga faktor perilaku memainkan peran penting dalam proses pembelajaran di kelas.



VII.            EVALUASI
      Sekolah harusnya lebih konsisten dan menyeluruh dalam penerapan sistem e-learning ini. Karena walaupun sudah hampir seluruh mata pelajaran menggunakan e–learning offline, namun kurang menekankan pada e-learning online-nya. Walaupun dilengkapinya website sekolah namun bahan ajar tidak di-upload ke website. Selain itu banyak pelajaran yang membutuhkan pengaplikasian dalam bidang visual namun tidak difasilitasi oleh guru yang mengajar dengan penggunaan power point.

D.               Rangkuman Hasil Observasi

            Penggunaan konsep e-learning di MAN 2 Model Medan telah dilakukan sejak tahun 2010. Metode pembelajaran e-learning ini memudahkan siswa untuk memahami mata pelajaran yang menitikberatkan pada aplikasi pemahaman audio visual seperti bahasa inggris, kimia, biologi dan lain sebagainya. Konsep e-learning yang digunakan di sekolah tersebut merupakan e-learning dengan program offline berupa pembelajaran menggunakan power point melalui sebuah projector yang telah disediakan di masing – masing kelas. Motivasi siwa kelas unggulan X-2 MAN 2 Model Medan tergolong tinggi, dikarenakan siswa memberi perhatian pada kelas dan sangat tertib akan tetapi motivasi ekstrinsik mereka yang lebih menonjol. Selain itu, motivasi siswa di kelas lebih mengarah pada perspektif behavioral dan humanistis. Orientasi belajar sekolah menggunakan model SCL (Student Centered Learning) dan TCL (Teacher Centered Learning), dimana siswa juga berperan dalam proses pembelajaran dan guru sebagai fasilitator, namun pada sebagian mata pelajaran lainnya guru masih ada yang menerapkan orientasi belajar TCL. Manajemen kelas sangat baik dan efektif, gaya penataan ruangan yang digunakan yaitu gaya auditorium dan gaya manajmen kelas menggunakan gaya otoritatif. Teori belajar yang digunakan berupa teori kognitif sosial.

E.               Testimoni
A.     kelompok
            Siswa sangat antusias dalam mendengarkan dan memerhatikan guru, kelas cukup nyaman dan bersih dengan penataan kelas di desain standar tipe auditorium. Orientasi belajar di sekolah ini juga sudah hampir SCL walaupun tidak keseluruhan diaplikasikan pada setiap mata pelajaran dan masih terdapat beberapa guru yang menerapkan sistem TCL. Kebanyakan dari siswanya mengatakan bahwa hambatan yang paling menyiksa itu jika listrik padam. Selebihnya e-learning sangat membantu proses belajar siswa. Dari observasi ke sekolah Kami selaku kelompok belajar banyak pengalaman dari hal tersebut. Dimulai dari pembagian tugas per orang, ada yang

B.     Pribadi

·      Riska Andani Simargolang (12-012)
Observasi ini adalah observasi yang pertama kali saya lakukan semenjak menjalani study di Fakultas Psikologi USU, rasanya deg;deg kan tapi ini benar-benar memberi pengalaman yang sangat berharga buat saya, dimana saya bisa berinteraksi secara langsung dengan siswa(i) yang bersekolah di MAN 2 MODEL MEDAN, saya sangat senang berkesempatan untuk mengobservasi sekolah tersebut. Testimoni saya untuk MAN 2 MODEL MEDAN adalah, sebaiknya konsep e-learning dan sistem SCL lebih diperhatikan dan di terapkan dalam proses pembelajaran.

·      Dika Lestari (12-022)
Pada observasi sekolah yang pertama sekali untuk saya, hal ini memberikan pengalaman yang berharga. Karena dari teori yang sudah saya pelajari pada mata kuliah psikologi pendidikan, maka di sinilah saya benar-benar bisa mengaplikasikan dan mengetahui dengan jelas contoh real dari teori yang ada. Testimoni saya untuk Man 2 Model Medan, hendaknya fasilitas e-learning dan sistem SCL lebih diaplikasikan secara berkesinambungan dan merata pada seluruh kelas di Man 2. Berhubung pada saat observasi Kami berkesempatan mengobservasi kelas unggulan jadi jelas terlihat bahwa fasilitas yang disediakan sekolah sangat memadai dan efektif. Dengan kapasitas murid kelas unggulan yang tidak lebih dari 25. Dan untuk kelas reguler kapasitasnya tidak lebih dari 35 dan projector pun sudah ada di setiap kelas.

·      Abdul Hakim Lubis (12-024)

·      Maulidya Khairiyah (12-026)
Dari hasil pengamatan saya pribadi e-learning yang difasilitasi oleh sekolah untuk para anak didiknya baik yang offline maupun online telah banyak membantu proses belajar mengajar yang terjadi di MAN 2 Model Medan. Dari pengamatan tersebut dan dari pengakuan para anak didik pula saya dapat menyimpulkan bahwa e-learning di MAN 2 Model Medan tersebut telah berjalan cukup efektif.

·      Carla Marsha (12-108)
            Menurut saya siswa disekolah sangat antusias dengan e – learning ini. Selain itu sekolah juga memfasilitasii dengan baik. Siswa diberikan individual table, individual locker dan lain – lain sehingga turut membantu murid untuk menyimpan gadget yang akan mereka gunakan saat menjalankan e – learning.
            Selain itu, observasi ini sangat berguna untuk mengasah daya analisa kita terhadap suatu fenomena real dengan berpedoman pada teori yang sudah ada. Sehingga menurut saya sangat berguna.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar