Rabu, 03 Juli 2013

Perspective Depelopment

PERSPEKTIF PERKEMBANGAN


A.     Berbagai Persoalan Teoritis Dasar
Teori (theory) adalah sebuah kumpulan antara gagasan atau pernyataan yang berhubungan secara logis, yang berusaha untuk menggambarkan dan menjelaskan perkembangan serta dapat juga meramalkan jenis-jenis perilaku yang mungkin akan terjadi pada kondisi-kondisi tertentu. Teori tidak hanya tebakan. Tetapi teori juga merupakan sebuah cara untuk mengolah data atau informasi yang dikumpulkan dalam penelitian, dan sumber untuk penjelasan hipotesis atau prediksi tersebut dapat diuji oleh peneliti lebih lanjut.
Berbagai teori bersifat dinamis, mereka mengubah untuk memasukkan temuan-temuan yang baru. Terkadang, penelitian mendukung sebuah hipotesis dan teori yang mendasarinya. Tetapi juga Para ilmuwan harus mengubah teori mereka untuk menjelaskan data yang terduga. Hasil-hasil penelitian selain memiliki aplikasi praktis,  sering menyarankan pertanyaan tambahan dan hipotesis untuk diperiksa.
Sebagian para ahli teori memiliki cara menjelaskan perkembangan tergantung pada cara mereka memandang dua persoalan yang mendasar :

1.         Apakah manusia berperan aktif atau pasif dalam perkembangan mereka sendiri.
2. Apakah perkembangan muncul dalam bentuk tahapan-tahapan.
3.         Apakah perkembangan lebih banyak dipengaruhi oleh hereditas atau lingkungan.
Berikut kita akan membahas sekilas dari persoalan-persoalan di atas.
1.    Aktif atau pasifkah perkembangan itu?
Pada abad ke-18. Jhon Locke, seorang filsuf inggris, yang menyatakan bahwa anak kecil seperti sebuah tabula rasa, atau sebuah “batu tulis yang kosong”. Sementara, Jean Jacques Rousseau, seorang filsuf asal prancis, meyakini bahwa anak-anak terlahir “noble savage”, akan berkembang menurut kecenderungan alami mereka yang positif jika tidak dirusak oleh masyarakat yang represif. Kedua pandangan tersebut sangat sederhana. Setiap anak-anak memiliki berbagai dorongan dan kebutuhan internal yang memengaruhi perkembangan, tetapi mereka juga makhluk sosial yang tidak dapat mencapai perkembangan optimal dalam pengasingan.
Debat terhadap filsuf-filsuf tersebut mengarah pada dua model atau perkembangan yang berlawanan, yaitu : mekanistik dan organismik. Pandangan Locke merupakan pelopor model perkembangan mekanistik. Dimana pada model ini manusia seperti mesin yang bereaksi terhadap masukan lingkungan (Pepper, 1942, 1961). Jika kita cukup mengetahui tentang bagaimana merakit “mesin” manusia, berarti dapat meramalkan hal yang akan dilakukan manusia. Penelitian mekanisme berusaha mengidentifikasi dan mengasingkan faktor-faktor yang membuat manusia berperilaku seperti yang mereka lakukan.
Rousseau adalah perintis model perkembangan organismik. Model ini memandang manusia sebagai organisme yang aktif dan tumbuh, yang melakukan proses perkembangan mereka sendiri (Pepper, 1942, 1961). Pengaruh lingkungan tidak menyebabkan perkembangan, meskipun hal tersebut dapat mempercepat atau memperlambatnya. Perilaku manusia merupakan suatu keseluruhan organik, tidak dapat diramalkan dengan memecah-mecahnya ke dalam respon sederhana terhadap rangsangan lingkungan.
2.    Apakah perkembangan dihasilkan secara berkesinambungan, atau muncul dalam bentuk tahapan?
Model-model mekanistik dan organismik juga memiliki perbedaan persoalan kedua: apakah perkembangan dihasilkan secara berkesinambungan, atau muncul dalam bentuk tahapan?

            Para ahli teori mekanistik memandang perkembangan sebagai hal yang berkesinambungan, seperti berjalan atau merangkak naik. Perkembangan dalam model ini, selalu dikendalikan oleh berbagai proses yang sama, untuk meramalkan berbagai perilaku sebelumnya dari perilaku sesudahnya. Para ahli teori mekanistik memusatkan pada perubahan kuantitatif.
Para ahli teori organismik menekankan perubahan kualitatif (Looft, 1973). Para ahli teori ini memandang perkembangan muncul dalam serangkaian tahapan yang berbeda, seperti tangga. Pada setiap tahapan manusia mengatasi berbagai macam masalah dan mengembangkan berbagai macam kemampuan yang berbeda.

B.     Konsensus yang Muncul
Model mekanistik dan organismik mengalami peralihan pengaruh dengan seiringnya berkembangnya kajian manusia. Pelopor terdahulu lebih menyukai pendekatan organismik atau tahapan. Adapun pelopornya seperti Sigmund Freud, Erik H. Erikson, dan Jean Piaget. Pada tahun 1960-an, pandangan mendapat mekanistik mendapat dukungan, dengan kepopuleran teori-teori belajar dari karya Jhon B. Watson. Saat ini, banyak perhatian teori dan penelitian memusatkan pada perilaku berbasis biologi.
Para ilmuwan perkembangan lebih banyak menyeimbangkan pandangan perkembangan aktif dan pasif. Terdapat kesepakatan yang luas bahwa pengaruhnya dua arah. Manusia mengubah dunianya meskipun dunia mengubah mereka. Seperti seorang bayi lelaki yang lahir dengan kecenderungan riang akan mendapatkan respon positif dari orang dewasa, yang akan memperkuat kepercayaan dirinya bahwa ketika tersenyum ia akan mendapat hadiah. Sehingga memotivasinya untuk lebih banyak tersenyum.

C.     Berbagai Sudut Pandang Teoritis
Banyak peneliti memandang perkembangan dari berbagai sudut pandang teoritis yang berbeda. Berbagai sudut pandang ini dapat memengaruhi permasalahan penelitian, metode yang mereka gunakan, dan cara menginterprestasi data. Oleh karena itu, untuk mengevaluasi dan menginterprestasi penelitian penting untuk mengenali berbagai sudut pandang teoritis yang mendasarinya.
Ada lima sudut pandang utama yang mendasari sejumlah teori dan penelitian yang berpengaruh terhadap perkembangan manusia, adalah :
1. Psikoanalisa (memusatkan pada berbagai emosi dan dorongan bawah sadar)
2. Belajar (mempelajari perilaku yang dapat diobsevasi)
3. Kognitif (menganalisis berbagai proses berpikir)
4. Evolusioner atau sosiobiologis (mempertimbangkandasar evolusioner dan biologis dari perilaku)
5. Kontekstual (memberikan pengaruh terhadap pengaruh konteks sejarah, sosisal, dan budaya)

Berikut adalah pemandangan umum terhadap asumsi, fokus utama, dan metode masing-masing sudut pandang serta beberapa ahli teori terkemuka dalam tiap-tiap sudut pandang.

a.        Perspektif 1: Psikoanalisis
Perspektif psikoanalisis memandang perkembangan dibentuk oleh kekuatan bawah sadar yang memotivasi manusia. Pandangan ini menganggap bahwa perkembangan dibentuk dari ketidaksadaran. Sigmund Freud (1856-1939) seorang  Dokter dari Wina, Austria merumuskan  perspektif psikoanalisis, yang mana menurut beliau perkembangan sebagai bentuk dari kekuatan ketidaksadaran yang dapat memotivasi perilaku manusia.
Psikoanalisis adalah pendekatan terapi yang dikembangkan Freud, dengan mencoba untuk memberikan pasien wawasan ke dalam konflik-konflik emosional yang tidak sadar dengan menanyakan mereka  pertanyaan untuk mengungkapkan memori yang telah lama terpendam. Selain itu, seorang ahli yaitu Erik H. Erikson,  memperluas dan memodifikasi teori Freud. Berikut ini kita akan membahas teori Freud dan Erik H. Erikson.
·      Sigmund Freud (perkembangan psikoseksual)
Perkembangan psikoseksual dalam teori Freudian adalah rangkaian konstan tahapan perkembangan karakter selama masa bayi, anak-anak, dan remaja dimana kenikmatan akan berubah-ubah. Freud (1953, 1964a, 1964b)   percaya bahwa manusia lahir dengan dorongan-dorongan  biologis yang harus diarahkan ulang supaya mereka  dapat hidup bermasyarakat. Beliau mengajukan tiga hipotesis kepribadian, yaitu id, ego dan superego. Bagi yang baru lahir diatur oleh id , yang mana menjalankan prinsip kesenangan yang mendorong untuk mencari kepuasan kebutuhan dan keinginan dalam waktu dekat. Ketika kepuasan itu tertunda sebagaimana ketika bayi kita harus menunggu lama untuk diberi makan, mereka mulai melihat bahwa diri mereka  sendiri  terpisah dari luar dunia.
Ego, ketika telah mampu menggambarkan penalaran, berkembang secara berangsur-angsur selama tahun pertama kehidupan atau berikutnya  dan menjalankan prinsip nyata. Ego bertujuan menemukan cara  yang realistik untuk memuaskan id  yang dapat diterima oleh superego, yang mana ini berkembang mulai dari umur 5 atau 6 bulan. Superego  mencakup perasaan dan memasukkan segala yang “boleh” dan “tidak boleh” yang diterima secara sosial ke dalam sistem nilai anak. Superego memiliki tuntutan yang tinggi, jika prestasi tidak didapatkan maka seorang anak akan merasa bersalah dan cemas.  Ego  menengahi antara keinginan id dan tuntutan dari superego.
Freud mengemukakan bahwa kepribadian yang terbentuk  dari masa kanak-kanak yang dapat menimbulkan konflik  antara berbagai dorongan id dari bayi  dan tuntutan hidup yang beradap.  Konflik ini terjadi dalam rangkaian yang tidak berubah-ubah dari  lima dasar tahapan perkembangan psikoseksual, yang mana kesenangan sensualitas  berubah dari satu daerah ke tubuh yang lain. Dari mulut  ke anus dan kemudian ke genital. Pada setiap langkah, perilaku  yang menjadi sumber utama kepuasan  (atau frustasi) berubah  dari pemberian makan ke penghilangan dan terkadang aktivitas seksual.

Tahap-tahap psikoseksual menurut  Sigmund Freud,  yaitu :
1.        Oral (Dari lahir sampai dengan 12-18 bulan)
Pada tahap ini sumber kenikmatan bayi mencakup berbagai aktivitas yang berorientasi pada mulut, misalnya mengisap atau makan.
2.        Anal (12-18 bulan sampai 3 tahun)
Seorang anak mengalami kepuasan seksual pada saat menahan dan mengeluarkan kotoran. Daerah kepuasannya ada pada anal dan toilet training sangat penting dijalankan pada saat ini.
3.        Phalic (Dari 2 tahun sampai 6 tahun)
Anak sangat dekat dengan orang tua yang berbeda jenis kelamin dan biasanya meniru orang tua yang berjenis kelamin sama. Superego mulai berkembang pada masa ini dan daerah kepuasan beralih pada daerah alat kelamin.
4.        Latency (6 tahun sampai dengan pubertas)
Waktu yang relatif tenang antara tahapan-tahapan yang lebih bergejolak.
5.        Genital (pubertas sampai dengan dewasa)
Munculnya kembali dorongan-dorongan seksual yang terpendam pada saat tahap phalic untuk disalurkan ke seksualitas dewasa yang matang.

Freud mengatakan bahwa tiga tahapan pertama pada beberapa tahun pertama kehidupan sangat penting, dan apabila pada suatu tahapan seorang anak menerima terlalu lebih atau terlalu kurang maka mereka akan beresiko fiksasi yaitu suatu penahanan yang akan mempengaruhi kepribadian seseorang pada tahap dewasa.
Pada tahap oral, ketika pemberian makan menjadi sumber utama kepuasan sensual  apabila kebutuhan sorang bayi banyak yang belum terpenuhi  maka pada masa dewasa dia akan tumbuh menjadi anak yang suka menggigit kuku atau perokok atau mengembangkan pribadi yang benar-benar kritis. Seseorang yang pada masa bayi mengalami pelatihan toilet yang terlalu ketat, mungkin akan bermasalah pada tahap anal, ketika sumber utama kesenangan adalah buang air. Orang yang seperti ini mungkin akan tumbuh menjadi pribadi yang terlalu mengutamakan kebersihan dan selalu menjalankan jadwalnya dengan kaku yang biasanya berantakan.

Freud mengatakan bahwa peristiwa  penting dalam perkembangan psikoseksual terjadi pada tahap Phalic pada masa kanak-kanak awal.  Dalam hal ini anak laki-laki identik dengan keinginan seksual dengan ibunya, begitu juga dengan anak perempuan yang memiliki keinginan seksual dengan ayah mereka, dan mereka menganggap bahwa orang tua sejenis dengan mereka merupakan saingan mereka dalam hal perhatian dari orang tua lawan jenis mereka. Freud mengatakan bahwa perkembangan ini sebagai Oedipus dan  Electra Complexes.
Dan umumnya anak-anak ini menyelesaikan masalah kecemasan mereka dengan cara mengidentifikasikan diri mereka  dengan orang tua yang berjenis kelamin yang sama dengan mereka, dengan kata lain mereka meniru orang tua yang berjenis kelamin yang sama dengan mereka, dan akhirnya berpindah ke tahap latency pada masa kanak-kanak tengah. Di tahap ini seorang anak menahan dorongan-dorongan seksual serta mulai bersosialisasi dan mengembangkan keterampilan hingga mempelajari diri mereka dan masyarakat. Pada tahap akhir yaitu genital yang berlangsung pada masa remaja.  Masa remaja inilah dorongan-dorongan seksual yang dipendam selama masa latency muncul kembali dalam  bentuk yang dapat diterima oleh masyarakat karena memang manusiawi.
Freud telah banyak memberikan kontribusi yang sangat penting dan valid yang di buktikan melalui penelitian. Freud membuat kita sadar akan pentingnya berbagai pikiran, perasaan, dan motivasi tidak sadar, peran berbagai pengalaman masa kanak-kanak dalam pembentukan kepribadian, ambivalensi berbagai respon emosional, terutama terhadap orang tua. Freud juga membuka mata kita bahwa bayi yang baru lahirpun kita telah memiliki dorongan seksual, meskipun saat ini banyak para ahli yang menolak teori Freud yang dinilai pembahasannya terlalu sempit pada dorongan seksual dan agresif.
Kita perlu mengingat bahwa teori Freud berkembang dalam sejarah dan masyarakat. Freud mendasari berbagai teorinya mengenai perkembangan normal bukan pada suatu populasi anak normal, tetapi pada kelompok klien terapinya yang datang dari orang dewasa kelas menengah ke atas, kebanyakan perempuan. Fokusnya terhadap pengaruh pengalaman emosiaonal dini tidak mempertimbangkan berbagai pengaruh kepribadian yang lain dan selanjutnya, termasuk pengaruh masyarakat dan budaya, yang ditekankan oleh banyak penerus tradisi Freudian, terutama Erikson.

·      Erik H. Erikson ( Perkembangan Psikososial)
Erik Erikson (1902-1994),  seorang ahli psikoanalisis kelahiran jerman yang pada awalnya adalah seperjuangan dengan Freud di Wina, memodifikasi dan mengembangkan teori Freud dengan cara menekankan pengaruh pada masyarakat terhadap perkembangan kepribadian. Erikson juga merupakan pelopor yang mengambil sudut pandang rentang kehidupan.  Dalam teorinya Freud mengatakan bahwa kepribadian seseorang itu dibentuk secara permanen pada saat seseorang itu masih berada pada masa kanak-kanak awal., dalam hal ini Erikson menentang, Erikson mengatakan bahwa ego berkembang sepanjang hayat seseorang.
Teori psikososial mencakup delapan tahapan sepanjang rentang hidup, yaitu :

1.        Basic Trust Versus Mistrus ( Dari awal kelahiran sampai 12-18 bulan)
Bayi mengembangkan kesadaran apakah dunia merupakan tempat yang baik dan aman. Kekuatan, harapan.
2.        Autonomy Versus Shame and Doubt (12-18 bulan sampai 3 tahun)
Seorang anak mulai mengembangkan keseimbangan antara kemandirian serta kemampuan mencukupi kebutuhan dengan rasa malu dan ragu. Kekuatan, kehendak.
3.        Initiative Versus Guilt (3 tahun sampai 6 tahun)
Seorang anak mulai mengembangkan inisiatif ketika mencoba berbagai kegiatan baru dan tidak diliputi rasa bersalah. Kekuatan, tujuan.
4.        Industry Versus Inferiority (6 tahun sampai dengan pubertas)
Seorang anak diharuskan belajar berbagai keterampilan budaya atau menghadapi berbagai perasaan tidak mampu. Kekuatan, keterampilan.
5.        Identity Versus Idendity confusion ( pubertas sampai dengan dewasa awal)
Remaja mulai harus mengenali siapa sebenarnya dirinya atau mulai mengalami kebingungan mengenal berbagai peran. Kebajikan, kekuatan.
6.        Intimacy Versus Isolation (dewasa muda)
Berusaha membuat komitmen dengan orang lain, jika mengalami kegagalan maka dia akan menderita keterasingan dan hanya akan tertarik pada diri dan kegiatannya sendiri. Kekuatan, cinta.
7.        Generativity Versus Stagnation ( dewasa tengah)
Tahap ini adalah orang yang telah menngalami kematangan yang mulai peduli dengan kemapanan dan membimbing generasi berikutnya atau merasa lemah secara pribadi. Kekuatan, kepedulian.
8.        Integrity Versus despair (dewasa akhir)
Lansia mencapai penerimaa  hidupnya sendiri, membuatnya dapat menerima kematian atau akan putus asa atas ketidakmampuannya dalam menghidupkan kembali kehidupan. Kekuatan, kebijaksanaan.

Masing-masing tahapan melibatkan apa yang disebut Erikson sebagai suatu krisis  dalam hal kepribadian. Pokok pikiran psikososial yang terpenting  pada masanya dan akan tetap menjadi persoalan pada kadar tertentu sepanjang sisa hidupnya. Persoalan-persoalan yang timbul ini harus segera diselesaikan secara memuaskan supaya ego berkembang dengan sehat.Tiap-tiap tahapan menuntut keseimbangan suatu kecenderungan positif dan menyesuaikan dengan yang negatif.  Kualitas positif seharusnya merupakan hal yang paling penting, tetapi  kadar negatif juga terkadang diperlukan. Tema kritis pada masa bayi, misalnya Basic trust versus basic mistrust, kita perlu memercayai bahwa orang –orang  yang berada di dalamnya akan memiliki rasa ketidakpercayaan pada diri mereka, namun rasa ketidakpercayaan ini juga dapat melindungi mereka dari bahaya. Hasil pada masing-masing tahapan yang berhasil adalah perkembangan kekuatan khusus, dalam hal ini kekuatan harapan.
Teori Erikson lebih kuat dari pada teoru Freud, namun seperti teori Freud, ada beberapa teori Erikson yang belum dapat di uji secara ketat.

b.        Perspektif 2: Pembelajaran (Learning)
Para teoritis aliran learning mempertahankan pendapat bahwa perkembangan merupakan hasil pembelajaran, perubahan terus-menerus yang didasari oleh pemgalaman atau merupakan adaptasi kepada lingkungan. Para teoretisi pembelajaran tertarik untuk menemukan prinsip-prinsip objektif yang mengontrol perubahan dalam perilaku yang dapat diobservasi dan dapat diaplikasikan secara setara kepada seluruh kelompok umur.
Para teoritikus pembelajaran telah membantu membuat studi perkembanan manusia menjadi lebih ilmiah. Terminology mereka didefenisikan dengan akurat, dan teori-teori mereka dapat diuji dalam laboratorium. Dengan menekankan pengaruh lingkungan, mereka membantu menjelaskan perbedaan kultural dalam perilaku. Dua teori utama aliran pembelajaran adalah behaviorism dan social learning theory.
·      Learning Theory 1: Behaviorism.
Behaviorisme adalah teori mekanistik yang mendeskripsikan perilaku yang dapat diobservasi sebagai respon terhadap pengalaman yang dapat diprediksi. Walaupun biologi menetapkan batas yang berkenaan dengan apa yang dilakukan manusia, akan tetapi para behavioris memandang lingkungan sebagai sesuatu yang memiliki pengaruh yang lebih besar. Mereka yakin bahwa manusia di semua tingkatan usia mempelajari dunia dengan cara yang sama yang dilakukan oleh organisme lain, yaitu bereaksi terhadap kondisi atau aspek lingkungan dengan menemukan kepuasan, kesedihan, atau ancaman. Behavioris mencari peristiwa yang menentukan apakah perilaku  tertentu akan berulang atau tidak. Penelitian behavioral fokus kepada pembelajaran asosiatif (associative learning),  dimana hubungan mental antara dua peristiwa terbentuk. Dua pembelajaran asosiatif adalah classical conditioning dan operant conditioning.
Classical conditioning. Ivan Pavlov (1849-1936), seorang psikolog Rusia, membuar sebuah percobaan di mana seekor anjing akan beajar untuk mengeluarkan air liur ketika mendengan suara lonceng yang biasa berbunyi untuk makan. Eksperimen ini merupakan dasar classical conditioning, dimana respons (air liur) terhadap stimulus (lonceng) didapat setelah asosiasi berulang kepada stimulus tersebut. Classical conditioning adalah bentuk pembelajaran alami yang akan terjadi walaupun tanpa intervensi. Dengan mempelajari peristiwa apa yang menyertai, seorang anak dapat mengantisipasi apa yang akan terjadi, dan pengetahuan ini membuat dunia mereka lebih teratur, suatu tempat yang dapat diprediksi.
Operant Conditioning. Seorang bayi bernama Terrel berbaring dengan damai di boksnya. Ketika ia tersenyum, ibunya mendatangi boksnya dan bermain dengannya. Kemudian ayahnya juga melakukan hal yang sama. Ketika rangkaian ini berulang, Terrel belajar bahwa perilakunya (tersenyum) dapat memproduksi tindakan yang diinginkannya (perhatian dan sayang dari orang tua): dan karena itu dia tersenyum untuk mendapatkan perhatian dari orang tuanya. Perilaku  (tersenyum) yang asalnya tidak sengaja ini, menjadi respons kondisional.
B. F. Skinner (1904-1990), psikolog Amerika, yang memformulasikan pengkondisian operan, paling sering melakukan penelitiannya dengan subjek tikus dan burung dara, akan tetapi ia berpendapat bahwa prinsip yang sama dapat diaplikasikan kepada manusia. Dia menemukan bahwa organisme cenderung mengulang kembali respons yang dikuatkan dan menolak respons yang menghasilkan hukuman. Penguatan (reinforcement)  adalah konsekuensi perilaku yang meningkatkan kecenderungan pengulangan perilaku tersebut; dalam kasus Terrel, perilakunya menguatkannya untuk tersenyum. Hukuman (punishment) adalah konsekuensi perilaku yang menurunkan kecenderungan untuk melakukannya lagi.
Penguatan dapat bersifat negative atau positif. Penguatan positif (positive reinforcement) terdiri dari pemberian hadiah. Penguatan negative (negative reinforcement) terdiri dari pengambilan sesuatu yang tidak disukai oleh individu (dikenal dengan peristiwa aversif ; peristiwa yang tidak dikehendaki). Terkadang penguatan negatif sering disamakan dengan hukuman (punishment). Kedua hal tersebut berbeda .Hukuman, menekan perilaku dengan memunculkan peristiwa aversif (aversive event) , atau dengan menarik persitiwa positif . Penguatan negative memotivasi perulangan perilaku dengan menanggalkan peristiwa aversif. Ketika seorang batita (toddler) melaporkan kepada orangtuanya bahwa ia telah mengotori popoknya saat berada dalam proses toilet training, pelepasan popok yang berbau dan lengket tersebut akan memotivasi si anak untuk kembali memberikan sinyal ketika “kecelakaan” tersebut terjadi lagi .
Modifikasi perilaku, atau terapi perilaku adalah penggunaan pengkondisian untuk mengubah perilaku secara gradual. Teknik tersebut dapat mengurangi frekuensi emosional anak dan meningkatkn penerimaan terhadap perilaku pengganti. Teknik ini efektif bagi anak-anak dengan kebutuhan khusus seperti autisme, dan dengan orang-orang yang memiliki gangguan makan.

·      Learning Theory 2: Teori Pembelajaran Sosial (Social Learning Theory).

Adalah Albert Bandura, seorang psikolog Amerika yang lahir pada 1925, yang mengembangkan banyak prinsip teori pembelajaran sosial. Ketika para behaviouris melihat lingkungan sebagai motif utama pertumbuhan ,pembelajaran sosial atau kognisi sosial (Bandura1977, 1989) percaya bahwa dorongan utama perkembangan bersumber dari orang.
Pembelajaran sosial klasik menyatakan bahwa orang-orang belajar perilaku sosial yang sesuai dengan mengobservasi dan mengimitasi model- yang mereka lakukan dengan melihat orang lain. Proses ini dikenal dengan istilah modeling, atau pembelajaran observasional. Orang-orang memulai atau melanjutkan pelajaran mereka dengan memilih model yang akan ditiru.
Teori pembelajaran terbaru Bandura (1989) disebut dengan kognitif sosial. Perubahan dari satu nama ke nama lain ini merefleksikan meningkatnya penekanan Banduranatas respon kognitif terhadap persepsi sebagai sesuatu yang mendasar dalam perkembangan. Proses kognitif terjadi saat seseorang mengamati sosok model, mempelajari “chunks” dari perilaku, dan secara mental menyatukan kepingan-kepingan tersebut ke dalam sebuah perlaku baru yang kompleks. Rita misalnya, mengimitasi teknik berjalan jinjit dari guru tarinya, tetapi mengikuti langkah-langkah tarian si Charmen, salah seorang murid senior. Walaupun demikian, dia mengembangkan gaya tariannya sendiri dengan mengolah semua hasil pengamatan menjadi pola baru dalam menari.
Melalui umpan balik atas perilaku mereka, secara  gradual anak-anak membentuk standar untuk menilai tindakan mereka sendiri dan menjadi lebih selektif dalam memilih model yang mengilustrasikan standar tersebut. Mereka juga mulai mengembangkan rasa self-efficacy (kecapakan diri), atau kepercayaan diri bahwa mereka memiliki karakter yang dibutuhkan untuk sukses.

c.         Perspektif  3 : Kognitif
Perspektif kognitif fokus kepada proses pemikiran dan perilaku yang mencerminkan proses tersebut. Perspektif ini mencangkup teori pengaruh organismik dan mekanistik. Perspektif ini mencakup teori tahapan kognitif  Piaget, pendekatan pemrosesan informasi terbaru, dan teori neo-Piagetian mencakup usaha kontemporer untuk mengaplikasikan temuan-temuan dari penelitian otak dalam usaha memahami proses kognitif.
·           Teori Tahapan Kognitif - Jean Piaget.
 Sebagian besar pengetahuan kita tentang cara berpikir anak bersumber dari teoritikus Swiss, Jean Piaget (1896-1980). Teori Piaget merupakan akar revolusi kognitif saat ini yang menekankan pada proses mental. Piaget mengambil perspektif organismik, yang memandang perkembangan kognitif sebagai produk usaha anak untuk memahami dan bertindak dalam dunia mereka.
Metode klinis Piaget mengkombinasikan observasi dengan pertanyaan fleksibel. Untuk menemukan cara berpikir. Piaget yakin bahwa perkembangan kognitif dimulai dengan kemampuan bawaan untuk beradaptasi dengan lingkungan. Piaget menggambarkan perkembangan kognitif dalam enam tahap yang berbeda secara kualitatif, yang memepersentasikan pola universal perkembangan. Pada tiap tahapan, pikiran anak mengembangkan cara berpikir baru. Dari bayi hingga remaja, fungsi mental berkemban dari pembelajaran berbasis sensorik sederhana serta aktivitas mototik kepada pemikiran yang abstrak dan logis. Pertumbuhan kognitif terjadi melalui tiga proses yang saling berhubungan: prganisasi, adaptasi, dan ekuilibrasi.
Organisasi adalah kecenderungan untuk membuat struktur kognitif yang semakin kompleks: system pengetahuan atau cara berpikir yang disertai dengan pencitraan realitas yang semakin akurat. Struktur-struktur ini disebut dengan “skema”, adalah pola perilaku terorganisai yang digunakan oleh seseorang untuk memikirkan dan melakukan tindakan dalam situasi tertentu. Ketika seseorang membutuhkan lebih banyak informasi, maka skemanya akan semakin kompleks.
Adaptasi merupakan istilah Piaget untuk cara anak memperlakukan informasi baru dengan mempertimbangkan apa yang telah mereka ketahui. Adaptasi meliputi dua langkah:
1.    Asimilasi, mengambil informasi baru dan menyertakannya dalam struktur kognitif yang telah ada.
2.    Akomodasi, mengubah struktur kognitif seseorang dalam rangka memasukkan informasi baru.
Ekuilibrasi adalah usaha konstan untuk mendapatkan kestabilan atau ekuilibrium, menghendaki perpindahan dari asimilasi ke akomodasi. Ketika seorang anak tidak dapat menangani informasi baru dalam struktur kognitif yang telah ada, dan karena itu akan terjadi disekulibrium-ketidak seimbangan, mereka akan mengorganisasi pola mental baru yang mengintegrasikan pengalaman baru, dan mengembalikan tingkat ekuilibrium yang lebih dapat diterima.

·      Information – Processing Approach (Pendekatan Pemrosesan Informasi)
Pendekatan pemrosesan informasi terbaru mencoba untuk menjelaskan perkembangan kognitif dengan menganalisis proses yang melibatkan penerimaan dan penanganan informasi, yang mendasari banyak teori dan penelitian. Pendekatan ini memiliki aplikasi praktis. Pendekatan tersebut memungkinkan para penliti untuk memperkirakan kecerdasan bayi di masa yang akan datang dari efesiensi persepsi dan pemrosesan sensoris. Para psikolog dapat menggunakan pendekatan ini untuk melakukan tes, diagnosis, dan penanganan masalah belajar.
·      Computer-Based Model
Para peneliti pendekatan pemrosesan informasi berusaha menarik kesimpulan dari apa yang terjadi secara stimulus dan respons.  Para peneliti telah mengembangkan model komputasi (computation model) atau diagram alir (flow chart)  yang menganalisis tahapan yang digunakan oleh individu untuk menguumpulkan, menyimpan, memanggil kembali, dan menggunakan informasi.
·           Teori Neo-Piagetian.
Pada 1980-an, sebagai respon kritik terhadap teori Piaget, psikolog perkembangan neo-Piagetian mulai mengintegrasikan beberapa elemen dari teorinya dengan pendekatan pemrosesan informasi. Neo-Piagetian memfokuskan diri pada konsep, strategi, dan ketrampilan tertentu seperti konsep nomor dan perbandingan antara “kurang” dan “lebih”. Mereka percaya bahwa anak-anak berkembang secara kognitif dengan cara menjadi lebih efisien dalam memproses informasi.
Karena penekanannya terhadap efesiensi pemrosesan informasi. Pendekatan neo-Piagetian membantu menjelaskan perbedaan individual dalam kemapuan kognitif dan perkembangan yang terhambat dalam berbagai ranah.
·      Cognitive neuroscience (Pendekatan Neurosains Kognitif)
Pada sebagai besar sejara psikologi, teoritikus dan peneliti mempelajari proses kognitif  terlepas dari stuktur fisik otak, tempat proses tersebut terjadi. Sekarang instrument yang canggih membuat kerja otak menjadi mungkin untuk dilihat. Para pendukung pendekatan neurisains kognitif berpendapat bahwa pemahaman tentang fungsi kognitif (dan emosional) yang akurat harus dikaitkan dengan apa yang terjadi dalam otak. Perkembangan ini menjelaskan bagaimana pertumbuhan kognitif dapat terjadi ketika otak berinteraksi dengan lingkungan. Perkembangan tersebut juga dapat membantu kita memahami mengapa ada orang yang tidak dapat berkembang dengan normal di usia dewasa.
Social cognitive neuroscience (neurosains sosial-kognitif)  adalah multidisiplin yang menjembatani otak, pikiran dan perilaku, mengumpulkan data dari ilmuan kognitif neurosains, psikologi sosial, dan pendekatan pemrosesan informasi. Para akar neurosains sosial-kognitif menggunakan pencitraan otak dan orang-orang  yang menderita kerusakan otak untuk mengetahui bagaimana jalur saraf mengontrol proses seperti ingatan dan  pada gilirannya akan mempengaruhi sikap dan emosi.

d.   Perspektif 4 : Evolusioner/sosiobiologis
Sudut pandang evolusioner/sosiobiologis ( evolusionary/sociobiological perspective) yang di ajukan oleh E. O. Wilson (1975) mencakup prilaku sosial berdasarkan evolusioner dan biologis. Sudut pandang ini , berfokus untuk melihat lebih jauh lagi prilaku terhadap fungsinya dalam mendukung kelompok atau spesies untuk dapat bertahan hidup. Sudut pandang ini juga dipengaruhi oleh teori evolusi darwin. Menurut darwin, semua spesies hewan telah berkembang melalui berbagai proses yang berkaitan dengan yang paling bisa beradaptasi dialah yang dapat bertahan hidup (survivel of the fittest) dan seleksi alam (natural selection). Dengan kata lain, individu yang dapat mudah beradaptasi dengan lingkungan akan lebih bertahan untuk hidup sedangkan yang kurang beradaptasi justru akan lebih sulit untuk dapat bertahan hidup alias punah.
Etologi (ethology) merupakan sebuah istilah yang mengkaji mengenai berbagai prilaku adaptif yang berbeda pada spesies hewan. Psikolog berkebangsaan inggris, john Bowlby, menerapkan prinsip-prinsip etologi pada perkembangan manusia, ia memandang  Kelekatan/kedekatan bayi pada pengasuhnya adalah sebagai prilaku yang berkembang untuk mendukung keangsungan hidupnya kelak.
Psikologi Evolusioner (evolutionary psychology) menerapkan berbagai prinsip darwin pada prilaku individual. Menurut teori ini, manusia secara tidak sadar berjuang tidak hanya untuk kehidupan pribadinya, melainkan melestarikan warisan genetik mereka.
Psikolog perkembangan evolusioner berusaha mengidentifikasi perilaku-perilaku yang adaptif pada usia yang berbeda-beda, misalnya bayi sangat membutuhkan dekat dengan orang tuanya, sedangkan anak yang mulai dewasa akan lebih suka dibiarkan mengekplorasi, agar dapat lebih mandiri.

e.    Perspektif  5 : Kontekstual
   Menurut sudut pandang ini (contextual perspective), perkembangan harus di pahami dalam konteks sosialnya. Kaum kontekstual melihat individu bukan sebagai entitas terpisah yang berinteraksi dengan lingkungan, tetapi justru merupakan bagian yang tidak terpisah dari lingkungan.
   Teori Bioekologi (bioecological theory) merupakan pendekatan Bronfenbrenner untuk memahami berbagai proses dan konteks perkembangan pada manusia. Untuk memahami berbagai proses ini, kita harus mempelajari banyak konteks dimana mereka muncul, dengan memperhatikan konteks yang saling terkait, serta berbagai pengaruh terhadap perkembangan, teori Bronfenbrenner memberikan sebuah pemahaman penting pada berbagai proses yang mendasari gejala yang beragam, seperti prilaku antisosial dan prestasi akademik. Bronfenbrenner mengidentifiasi lima sistem kontekstual yang saling berkaitan, mulai di yang paling dekat sampai yang paling luas cakupannya, yaitu : Mikrosistem, Mesosistem, Eksosistem, Makrosistem, dan Kronosistem.  Yang perlu diingat adalah bahwa batas-batas antar sistem dapat berubah-ubah, meskipun kita memisahkan berbagai tingkatan pengaruh untuk tujuan ilustrasi, pada kenyataannya hal-hal tersebut akan terus menerus berinteraksi.
Untuk lebih paham, kita akan mengkaji satu persatu dari kelima sistem kontekstual yang saling berkaitan menurut Bronferbrenner, yang pertama adalah :
1.         Mikrosistem (Microsytem) yang merupakan sebuah pola interaksi seperti kegitan, peran, dan hubungan dalam sebuah lingkungan seperti rumah, sekolah, tempat kerja, atau lingkungan tempat tinggal dengan kata lain menekankan mengenai interaksi sehari-hari dan bertatap muka dengan orang lain. Mempelajari mikrosistem dapat memberi pencerahan, melalui mikrosistem, pengaruh-pengaruh yang lebih jauh, seperti lembaga-lembaga sosial dan nilai-nilai budaya, dapat membantu orang berkembang.

2.         Mesosistem ( mesosystem) merupakan interaksi dua atau lebih mikrosistem yang mengendalikan orang yang berkembang. Perhatian pada mesosistem dapat memberitahu kita mengenai berbagai perbedaan dalam cara-cara orang yang sama bertindak pada lingkungan yang berbeda. Sebagai contoh, ada seorang anak yang sangat aktif, dan mudah bergaul alias senang berteman, tetapi di rumah justru menjadi lebih pendiam dan suka melamun.

3.         Eksosistem (Exosystem) hampir sama seperti mesosistem, yang terdiri atas kaitan antara dua tau lebih lingkungan. Namun demikian, terdapat perbedaan antara mesosistem dan eksosistem, yaitu pada salah satu lingkungan, seperti tempat kerja orang tua atau jaringan kerja sosial orang tua, tidak mengendalikan orang yang berkembang, jika demikian, akan mempengaruhi secara tidak langsung.

4.          Makrosistem (macrosystem) terdiri atas keseluruhan pola budaya suatu masyarakat, maksudnya secara tidak langsung kebiasaan, atau keyakinan-keyakinan terdaulu akan dilakukan dan diwariskan secara turun temurun.

5.         Kronosistem (Chronosystem) mempengaruhi kadar stabilitas atau perubahan dalam dunia seseorang.  Hal ini dapat mencakup perubahan-perubahan dalam  komposisi leluarga, tempat tinggal, atau pekerjaan orang tua, serta peristiwa-peristiwa yang lebih besar. Berbagai perubahan dalam pola keluarga merupakan baerbagai faktor kronosistem.

Menurut Bronfenbrenner, seseorang bukanlah hanya sekedar hasil perkembangan, tetapi juga merupakan pembentuk perkembangan. Manusia membentuk perkembangannya sendiri melalui karakteristik biologis dan psikologis, bakat dan keterampilan, ketidakmampuan dan tempramen.
   Kontribusi utama sudut pandang  kontekstual adalah penekanannya pada komponen sosial dari perkembangan. Sudut pandang kontekstual mengingatkan kita bahwa hasil-hasil penelitian mengenai perkembangan manusia (human Depelopment) dalam suatu budaya atau kelompok pada suatu budayabisa jadi tidak berlaku sama pada mereka yang berada dalam masyarakat atau kelompok budaya lain.

Bagan 5 Sistem Kontekstual


D.   Bagaimana Teori dan Penelitian Bekerja Bersama-sama
   Pada dasarnya tidak ada satu pun teori perkembangan manusia yang diterima secara universal, dan tidak ada satupun sudut pandang teoritis yang menjelaskan seluruh aspek perkembangan. Berbagai teori perkembangan tumbuh dan diuji oleh penelitian. Meskipun kebanyakan peneliti ekletik, mengambil kesimpulan dari berbagai susut pandang teoritis, pertanyaan penelitian dan metode terkadang mencerminkan orientasi teoritis tertentu pada peneliti. Dalam upaya memahami bagaimana anak mengembangkan kesadaran mengenai hal yang benar dan hal yang salah, seorang penganut behaviorisme akan menelaah cara orang tua memberikan respons terhadap prilaku anak, bentuk prilaku apa saja yang mereka hukum atau puji. Seorang ahli teori pembelajaran sosial akan memusatkan pada imitasi keteladanan moral, mungkin dalam cerita atau film. Seorang peneliti yang menganut pandangan pemprosesan informasi mungkin melakukan analisis tugas untuk mengidentifikasi berbagai langkah yang dilalui seorang anak dalam menentukan cakupan pilihan moral yang tersedia dan kemudian menentukan sendiri pilihan mana yang dikejar.

DAFTAR PUSTAKA

Diane E. Papalia, et.al.Human Development (Psikologi Perkembangan) Penerbit Kencana Prenada Media Group. Jakarta. 2008
Papalia, Diane E. 2007. Human Development, Tenth Edition. McGraw-Hill: New York.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar