Rabu, 03 Juli 2013

Psikososial masa anak 3 tahun pertama

Perkembangan Psikososial Selama Tiga Tahun Pertama

A. Dasar Perkembangan Psikososial
Walupun bayi melewati pola perkembangan yang lazim, tiap bayi, sejak awal, menunjukkan kepribadian yang berbeda satu sama lain, mencakup campuran yang relatif konsisten antara emosi, tempramen, tingkah laku menjadikan setiap individu unik. Karateristik ini, bagaimana tiap perasaan, pikiran, dan tingkah laku, memengaruhi cara anak merespons terhadap yang lain dan beradaptasi terhadap dunia. Perkembangan kepribadian berkaitan erat dengan hubungan sosial dan kombinasi inilah yang dimaksud dengan Perkembangan Psikososial.

1. Emosi
Emosi, seperti kesedihan, sukacita, dan rasa takut, adalah reaksi subjektif terhadap pengalaman yang diasosiasikan dengan perubahan fisiologis dan tingkah laku.  Rasa takut, misalnya, disertai dengan detak jantung lebih cepat dan sering kali, tindakan melindungi diri. Satu anak dapat mudah marah, yang lain tidak. Emosi merupakan bagian dari aspek afektif yang memiliki pengaruh besar terhadap kepribadian dan perilaku seseorang. Emosi bersifat fluktuatif dan dinamis, artinya perubahan emosi sangat tergantung pada kemampuan seseorang dalam mengendalikan diri.
Budaya mempengaruhi cara orang merasakan suatu situasi dan cara mereka menunjukkan emosi mereka. Sebagai contoh, beberapa budaya Asia, yang menekankan harmoni sosial, tidak mendukung ekspresi rasa marah. Namun, hal yang sebaliknya berlaku pada budaya Amerika, yang menekankan ekspresi diri, pernyataan diri, dan harga diri.
Perkembangan emosional merupakan proses yang terjadi secara bertahap : emosi yang rumit merupakan hasil dari yang sederhana. Karakteristik pola reaksi emosional seseorang mulai berkembang selama masa bayi dan merupakan elemen dasar dari kepribadian. Namun, ketika anak tumbuh dewasa, beberapa tanggapan emosional dapat berubah. Seorang bayi yang pada usia 3 bulan, tersenyum pada wajah orang asing, mungkin pada 8 bulan, menunjukkan kekhawatiran, kecemasan akan orang asing.
Emosi terkait erat dengan berbagai aspek perkembangan. Misalnya, bayi yang baru lahir yang terlalaikan secara emosional, tidak dipeluk, dibelai atau diajak berbicara, mungkin menunjukkan kegagalan organik untuk berkembang, yaitu kegagalan untuk tumbuh dan bertambah berat badan. Emosi seperti kemarahan dan ketakutan, dan terutama rasa malu, rasa bersalah, dan empati, dapat memotivasi perilaku moral.
Tanda-tanda Awal Emosi
Bayi yang baru lahir akan  menunjukkan ekspresi ketika mereka tidak bahagia. Mereka menangis dengan kencang, menggerak-gerakkan tangan dan kaki, dan mengakukan tubuh. Sangat sulit untuk mengetahui kapan mereka sedang senang. Pada bulan pertama, mereka menjadi tenang ketika mendengar suara seseorang atau ketika digendong, dan mereka tersenyum ketika tangan mereka digerakkan  bersama untuk bermain puk-ame-ame. Seiring dengan berjalannya waktu, bayi lebih merespon terhadap orang-orang di sekitarnya.
Sinyal-sinyal awal atau tanda-tanda perasaan bayi ini merupakan indikator perkembangan yang penting. Ketika bayi menginginkan atau membutuhkan sesuatu, mereka menangis; ketika mereka tidak sendirian , mereka tersenyum atau tertawa. Rasa penuh kendali mereka terhadap dunia pun tumbuh, ketika mereka sadar bahwa tangis mereka membawa bantuan dan kenyamanan. Mereka menjadi lebih mampu untuk berpartisipasi aktif dalam mengatur keadaan tergugah dan kehidupan emosional mereka.

·         Menangis
Menangis adalah cara yang paling ampuh, dan kadang-kadang satu-satunya cara bayi untuk dapat mengkomunikasikan kebutuhan mereka. Beberapa penelitian telah membedakan empat pola menangis:  tangisan lapar (tangisan yang beritme, yang tidak selalu berhubungan dengan rasa lapar); tangisan marah (variasi tangisan beritme, di mana banyak  udara dipaksakan  melewati pita suara); tangisan sakit (tangisan tiba-tiba tanpa didahului rintihan, kadang-kadang diikuti dengan menahan napas), dan tangis frustrasi (dua atau tiga tangis, tanpa menahan napas panjang).

·         Tersenyum dan Tertawa
Senyum kecil paling dini terjadi secara spontan segera setelah lahir, yang ternyata adalah hasil dari aktivitas sistem saraf subkortikal. Senyuman involuntari ini sering muncul pada periode tidur REM. Senyum ini berkurang pada usia tiga bulan pertama.
Senyum sadar paling dini dapat ditimbulkan oleh sensasi halus, seperti menggoyangkan dan meniup kulit bayi. Pada minggu kedua, bayi mungkin tersenyum mengantuk setelah diberi makan. Pada minggu ketiga, sebagian besar bayi mulai tersenyum ketika mereka terjaga dan memperhatikan anggukan kepala pengasuh dan suara pengasuh. Pada sekitar 1 bulan, senyum umumnya menjadi lebih sering dan lebih sosial. Selama bulan kedua, seiring berkembangnya pengenalan visual, bayi lebih sering tersenyum pada rangsangan visual, seperti wajah mereka kenal.
Pada sekitar bulan keempat, bayi tertawa keras ketika dicium di perut atau digelitik. Pada sekitar bulan keenam, mereka mungkin terkekeh merespons ibunya yang mengeluarkan suara aneh atau muncul dengan handuk mengerudungi wajahnya. Pada sekitar bulan kesepuluh, mereka tertawa mungkin mencoba untuk menempatkan handuk kembali di wajahnya ketika jatuh. Perubahan ini mencerminkan perkembangan kognitif: dengan tertawa tiba-tiba, bayi menunjukkan bahwa mereka tahu apa yang mereka harapkan. Tertawa juga membantu bayi melepas ketegangan, seperti rasa takut terhadap objek yang mengancam.

Jenis-Jenis Emosi Anak Usia Tiga Tahun Pertama
Secara umum, ada dua jenis emosi anak usia tiga tahun pertama yakni :
1)      Emosi Negatif
Emosi negatif adalah suatu ungkapan perasaan-perasaan yang cenderung ditandai dengan kondisi yang tidak nyaman dan tidak sesuai dengan keinginan atau harapan diri sendiri yang disebabkan oleh keadaan lingkungan eksternal. Yang termasuk dalam kelompok emosi negatif antara lain : jengkel, takut, marah, curiga, kuatir, dan sebagainya. Bila anak merasakan emosi ini maka ia segera menangis.
2)      Emosi Positif
Emosi positif adalah suatu kondisi perasaan yang membuat anak menjadi gembira, bahagia, semangat dan percaya diri untuk melakukan sesuatu. Anak yang mengalami perasaan senang ditandai dengan muka tersenyum atau tertawa.

Ketika Apakah Emosi Muncul?
Mengidentifikasi emosi bayi sangat menantang karena bayi tidak dapat memberitahu kita apa yang mereka rasakan. Carroll Izard dan koleganya memvideokan ekspresi wajah bayi  dan menginterpretasinya  sebagai menunjukkan rasa senang, sedih, tertarik, dan takut,  serta marah, terkejut, dan  jijik. Tentu saja, kita tidak tahu bahwa bayi ini memang merasakan emosi ini, tapi ekspresi wajah mereka begitu mirip dengan ekspresi orang dewasa ketika mengalami emosi tersebut.
Ekspresi wajah bukan satu-satunya rujukan atas emosi bayi, juga bukan yang terbaik: aktivitas motorik, bahasa tubuh, dan perubahan fisiologis juga merupakan indikator penting. Indikator- indikator yang berbeda dapat menunjukkan kesimpulan yang berbeda tentang waktu munculnya emosi spesifik.

Emosi Dasar
Menurut salah satu model perkembangan emosional, segera setelah lahir , bayi menunjukkan tanda-tanda kepuasan, tertarik, dan distres. Tanda-tanda ini merupakan respons campuran, bersifat refleks, dan kebanyakan merupakan respons psikologis terhadap rangsangan sensori atau proses internal. Selama enam bulan ke depan atau lebih, kondisi emosional dini ini berubah menjadi emosi sebenarnya: senang, kaget, sedih, jijik, serta marah dan takut. Seperti yang akan kita bahas dalam bagian berikutnya, kemunculan emosi dasar, atau primer, ini berkaitan dengan "jam" biologis pematangan neurologis.

Emosi-Emosi Yang Melibatkan Diri
Emosi kesadaran diri (self-conscious emotions), seperti malu, empati, dan iri, muncul hanya ketika bayi telah mengembangkan mawas diri: pemahaman kognitif bahwa mereka memiliki identitas yang dapat dikenali, terpisah, dan berbeda dari dunia di luar pikiran mereka. Kesadaran terhadap diri tampaknya muncul antara 15 dan 24 bulan, ketika, menurut Piaget, bayi sudah dapat membuat representasi mental tentang dirinya sendiri juga tentang orang dan objek lain. Mawas diri dibutuhkan  sebelum anak dapat menyadari bahwa ia menjadi fokus perhatian. Pada usia 3 tahun, ketika telah memiliki mawas diri dan sekumpulan pengetahuan tentang standar, aturan, dan tujuan yang diterima oleh masyarakat mereka, anak dapat mengevaluasi pikiran. Baru pada saat itu mereka dapat mendemonstrasikan emosi evaluasi diri (self-evaluative emotions).
Rasa bersalah dan malu adalah emosi yang berbeda, meskipun keduanya mungkin merupakan respons terhadap tingkah laku yang salah. Anak-anak yang gagal memenuhi standar perilaku mungkin merasa bersalah (yaitu, menyesali perilaku mereka), tetapi mereka belum tentu merasa kurang pantas diri, seperti ketika mereka merasa malu. Fokus mereka adalah pada tindakan yang buruk, bukan diri yang buruk.




Empati: Merasakan Apa Yang Orang Lain Rasakan
Empati adalah kemampuan untuk "menempatkan diri sendiri di posisi orang lain" dan merasakan yang dirasakan orang tersebut, atau diharapkan merasakan, dalam situasi tertentu. Seperti perasaan bersalah, empati berkembang seiring dengan berjalannya usia. Makin anak mampu membedakan keadaan mentalnya dengan orang lain, mereka mampu merespon distres anak lain seperti distres mereka sendiri. Empati berbeda dengan simpati, yang hanya melibatkan kesedihan atau kepedulian terhadap penderitaan orang lain. Baik empati dan simpati dapat menimbulkan tingkah laku sosial, seperti memberi kembali mainan.
Empati bergantung pada kognisi sosial, kemampuan kognitif untuk memahami bahwa orang lain memiliki keadaan mental serta memperkirakan perasaan dan niat mereka. Piaget percaya bahwa egosentrisme (ketidakmampuan melihat sudut pandang orang lain) menunda perkembangan kemampuan ini sampai tahap operasional konkret. Penelitian lain menunjukkan bahwa kognisi sosial dimulai sangat dini sehingga mungkin merupakan "potensi bawaan, seperti kemampuan untuk belajar bahasa".

Pertumbuhan Otak dan Perkembangan Emosional
Perkembangan otak setelah kelahiran sangat berhubungan dengan perubahan dalam kehidupan emosional. Ini adalah proses dua arah: pengalaman emosional tidak hanya dipengaruhi oleh perkembangan otak, tetapi juga dapat memiliki efek jangka panjang pada struktur otak.
Seorang bayi yang baru lahir hanya memiliki sedikit rasa kesadaran dan sangat mudah terstimulasi dengan suara, cahaya, dan sumber rangsangan sensorik lainnya.
Sepertinya terdapat empat peralihan dalam organisasi otak, yang kurang lebih berhubungan dengan perubahan dalam pengolahan emosi. Selama tiga bulan pertama, diferensiasi terhadap emosi dasar dimulai begitu korteks serebrum mulai berfungsi, membuat persepsi kognitif berfungsi. Tidur REM dan perilaku refleksif, termasuk senyum spontan neonatal,  berkurang.
Peralihan kedua terjadi sekitar 9 atau 10 bulan, ketika lobus frontal mulai berinteraksi dengan sistem limbik, yang merupakan tempat asal reaksi emosional. Pada saat yang sama, struktur limbik seperti hippokampus membesar dan jadi seperti orang dewasa. Koneksi antara korteks frontal dan sistem hipotalamus dan limbik, yang memproses informasi sensorik, dapat memfasilitasi hubungan antara lingkungan kognitif dan emosional. Seorang bayi usia ini dapat menjadi marah ketika bola gulungan bawah sofa dan bisa tersenyum atau tertawa ketika itu akan diambil. Takut orang asing sering berkembang pada saat ini.
Peralihan ketiga berlangsung selama tahun kedua, ketika bayi mengembangkan mawas diri, emosi kesadran diri , serta kapasitas lebih besar untuk mengatur emosi mereka sendiri dan kegiatan mereka sendiri. Perubahan ini bersamaan dengan mobilitas fisik yang lebih besar dan tingkah laku mengeksplor, mungkin berhubungan dengan mielinasi pada lobus frontal.
Peralihan keempat terjadi pada usia 3 tahun, ketika perubahan hormonal pada sistem saraf otonomik muncul bersamaan dengan emosi evaluatif. Proses mendasari perkembangan emosi-emosi seperti rasa malu ini mungkin menandakan bahwa tinggal satu peralihan lagi hingga proses kognitif anak didominasi oleh sistem simpatetis,yang merupakan bagian dari sistem otomatis yang mempersiapkan tubuh untuk bertindak.

2. Temperamen
Temperamen dideskripsikan sebagai bagaimana seseorang bertingkah laku. Namun, para peneliti memandang temperamen secara lebih luas, dimana mereka menganggap bahwa temperamen juga berkaitan dengan bagaimana mereka mengatur fungsi mental, emosional, dan perilaku mereka sendiri.
Temperamen memiliki dimensi emosional, tapi berbeda dengan dengan emosi seperti rasa takut, tertarik, dan bosan yang mungkin datang dan pergi, temperamen relatif konsisten dan menetap. Perbedaan individual dalam temperamen diduga berasal dari bangunan biologis dasar seseorang, membentuk inti dari perkembangan kepribadian.

Pola Temperamental
Para ahli psikologi perkembangan membedakan tiga jenis anak berdasarkan suatu penelitian pelopor tentang temperamen. Para peneliti memantau sebanyak 133 bayi hingga masa dewasa dan mengamati berbagai komponen karakteristik yang berbeda-beda. Hampir dua pertiga anak masuk dalam satu dari tiga kategori,  yang terbagi atas :
1.      Anak  “Mudah” ( “Easy” Children)
Anak mudah ialah anak yang ditandai dengan karakteristik atau sifat-sifat yang mudah untuk diajak kerjasama dengan lingkungan sosial. Ia memlilki pemikiran, sikap, dan perilaku yang positif terhadap orang lain. Ia mudah untuk melakukan aktivitas yang rutin dan menerima berbagai pengalaman yang baru. Peneliti menemukan bahwa sebanyak 40% anak-anak tergolong mudah.
2.      Anak “Sulit” ( “Difficult” Children)
Anak sulit ialah anak yang cenderung memiliki karakteristik atau sifat-sifat yang negatif, sehingga merasa sulit untuk menyesuaikan diri dengan tuntutan lingkungan sosialnya. Ia lebih mudah terganggu, lebih sulit disenangkan, ekspresi emosionalnya cukup kuat. Peneliti menemukan bahwa sebanyak 10% anak-anak tergolong sulit.
3.      Anak “Lambat dipancing” (“Slow-to-warm up”)
Anak lambat dipancing adalah sebesar 15% yaitu anak yang tenang tapi sulit beradaptasi terhadap orang dan situasi baru. Ia cenderung tidak stabil kondisi emosinya dalam merespon stimulus dari lingkungan hidupnya, sehingga kadang-kadang ia merasa mudah, tetapi kadang merasa sulit menyesuaikan diri terhadap tuntutan lingkungan sosial.

Tiga puluh lima persen sebagai sisanya tidak masuk dengan pas dalam ketiga kelompok ini. Seorang bayi mungkin makan dan tidur teratur, tapi takut pada orang asing, atau anak mungkin lambat untuk menerima makanan baru tetapi cepat beradaptasi pada pengasuh baru. Semua variasi ini adalah normal adanya.

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Temperamen
Secara umum, temperamen sangat dipengaruhi oleh 2 faktor yaitu :
1)      Faktor Herediter
Faktor herediter ialah kondisi temperamen yang telah dibawa sejak kelahiran anak yang bersangkutan dan ini bersifat stabil dan menetap. Gunnar (dalam Rothbart & Ebar, 1998) menyebutkan lima alasan bahwa faktor biologis-genetis berpengaruh besar terhadap pembentukan dan perkembangan temperamen yaitu (1) temperamen dipengaruhi oleh sistem syaraf pusat, (2) aktivitas perilaku, emosi diatur oleh sistem saraf, (3) proses emosi maupun temperamen terjadi pada setiap makhluk hidup seperti manusia dan mamalia, (4) gugahan dan pengaturan diri berhubungan erat dengan sistem kerja fisiologis.
2)      Faktor Lingkungan
Faktor lingkungan ialah sejauhmana lingkungan amat mempengaruhi kondisi temperamen individu, misalnya: perlakuan/ pemeliharaan anak dari orangtua. Banyak anak ketika lahir mengekspresikan perilaku menangis selama 3 bulan pertama, karena hubungan orang tua tak harmonis. Tetapi hal itu akan berubah, setelah hubungan orang tua menjadi harmonis.



Pengukuran Temperamen
Orangtua menilai bayi mereka berdasarkan kejadian dan tingkah laku konkret. Walaupun penilaian orang tua merupakan yang paling lazim digunakan untuk mengukur temperamen anak, reliabilitasnya dipertanyakan. Penelitian-penelitian pada anak kembar menunjukkan bahwa orang tua cenderung menilai temperamen anak dengan melakukan perbandingan terhadap anak lain dalam keluarganya. Contoh, melabel satu anak tidak aktif dan berbeda dengan saudara kandung yang lebih aktif.
Orangtua melihat anak mereka dalam berbagai situasi sehari-hari sementara pengamat laboratorium hanya mengamati bagaimana anak memberikan reaksi terhadap situasi tertentu yang terstandardisasi. Dan kombinasi diantara keduanya lebih memungkinkan untuk memperoleh hasil yang lebih akurat tentang temperamen anak.

Temperamen dan Penyesuaian Diri : “Goodness of Fit”
Menurut NYLS, kunci penyesuaian diri yang sehat adalah goodness of fit, yaitu kecocokan antara temperamen anak dengan tuntutan lingkungan dan hambatan yang harus dihadapi oleh anak. Bila seorang anak yang sangat aktif dituntut untuk diam sangat lama maka masalah dapat muncul.
Bila orangtua menyadari bahwa anak bertingkah laku dengan cara tertentu, bukan karena keinginan, kemalasan, atau kebodohan, tapi karena temperamen bawaan, mereka mungkin lebih tidak merasa bersalah, cemas, atau agresif, atau menjadi tidak sabaran. Mereka dapat mengantisipasi reaksi anak dan membantu anak beradaptasi. Contohnya dengan memberikan peringatan lebih awal untuk menghentikan aktivitas dan secara bertahap memperkenalkan anak kepada situasi baru.

Rasa Malu dan Berani : Pengaruh Biologi dan Budaya
Jerome Kagan dan koleganya meneliti aspek temperamen yang disebut hambatan terhadap hal yang tidak familiar atau rasa malu yang berkaitan dengan seberapa mudahkah bergaulnya seorang anak terhadap anak lain serta seberapa berani mendekati objek yang tidak familiar.
Bayi berusia 4 bulan lebih reaktif yaitu lebih menunjukkan aktivitas motorik dan kemungkinan menunjukkan pola hambatan pada usia 14 dan 21 bulan. Bayi yang sangat terhambat tampaknya mempertahankan pola ini hingga masa remaja.
Anak laki-laki yang cenderung takut dan malu mungkin tetap demikian hingga usia 3 tahun, bila orang tua mereka menerima reaksi anak mereka tersebut. Bila orangtua menyemangati putra mereka untuk berpetualang, kecenderungan hambatan mereka berkurang.
Budaya mungkin memengaruhi cara orangtua menghadapi anak. Di Kanada, anak yang pemalu dan terhambat cenderung dianggap tidak kompeten. Sementara di Cina, dapat diterima secara sosial. Pada sebuah penelitian, lintas budaya terhadap anak Cina dan Kanada yang berusia 2 tahun, ibu Kanada dari anak yang mengalami hambatan cenderung sering menghukum dan terlalu melindungi, sementara ibu Cina cenderung hangat dan menerima.
Namun demikian, karena ini merupakan penelitian korelasional, kita tidak tahu apakah temperamen anak merupakan konsekuensi atau sebab dari perlakuan ibu.

3. Pengalaman Sosial Awal
Praktik perawatan dan  pengasuhan bayi diseluruh dunia itu berbeda-beda, tergantung pandangan budaya terhadap alam dan kebutuhan bayi. Setelah bayi lahir maka bayi sudah mulai bersosialisasi terhadap lingkungan sekitarnya, khususnya dengan kedua orangtuanya. Bagi orang tua yang bekerja ataupun single parent maka sibayi di rawat oleh orang lain seperti keluarga atau pengasuh bayi dengan waktu tertentu dan terkadang pengasuh bayi lebih dari satu orang, sehingga membuat bayi bisa bersosialisasi . Kemampuan sosial anak diperoleh dari berbagai kesempatan dan pengalaman bergaul dengan orang-orang dilingkungannya. Keluarga merupakan lingkungan pertama yang memberikan pengaruh terhadap berbagai aspek perkembangan anak, termasuk perkembangan sosialnya. Kondisi dan tata cara kehidupan keluarga merupakan lingkungan yang kondusif bagi sosialisasi anak. Proses pendidikan yang bertujuan mengembangkan kepribadian anak lebih banyak ditentukan oleh keluarga, pola pergaulan, etika berinteraksi dengan orang lain banyak ditentukan oleh keluarga. Pada masa ini pola interaksi bayi berbasis budaya dan berhati-hati dalam pikiran yang dipengaruhi oleh peran ibu dan ayah, bagaimana mereka merawat bayi mereka, bagaimana mereka membentuk kepribadian antara bayi laki-laki dan perempuan.Semakin bertambah usia anak maka semakin kompleks perkembangan sosialnya, dalam arti mereka semakin membutuhkan orang lain. Tidak dipungkiri lagi bahwa manusia adalah makhluk sosial yang tidak akan mampu hidup sendiri, mereka butuh interaksi dengan manusia lainnya, interaksi sosial merupakan kebutuhan kodrati yang dimiliki oleh manusia.



PERAN IBU
Ibu merupakan sekolah-sekolah paling utama dalam pembentukan kepribadian anak, serta saran, untuk memenuhi mereka dengan berbagai sifat mulia. Ibu bertanggungjawab menyusun wilayah-wilayah mental serta sosial dalam pencapaian kesempurnaan serta pertumbuhan anak yang benar. ibu akan memberikan jenis stimulasi yang sama dan kesempatan untuk perkembangan positif sebagai ibu hidup. Atimulasi tersebut menunjukkan bahwa makan bukanlah satu-satunya, atau bahkan yang paling penting, hal yang didaptkan bayi dari ibu mereka. ibu meliputi kenyamanan kontak tubuh dekat, kepuasan jika kebutuhan bawaan untuk melekat bayi juga memiliki kebutuhan yang harus dipenuhi, jika mereka tumbuh secara normal.

PERAN AYAH
Ayah pada dasarnya adalah sebuah konstruksi sosial, memiliki arti yang berbeda dalam budaya yang berbeda. peran dapat diambil atau dibagi oleh orang lain selain ayah biologis. Di dunia terdapat berbagai jenis type ayah dalam merawat atau bermain dengan bayinya. Ayah biologis lebih terlibat pada anak-anak mereka dalam bidang ekonomi, emosional dan waktu yang dihabiskan. Ayah tradisional bertanggung jawab terhadap ekonomi dan kedisplinan dan ibu untuk memelihara. Ayah harus menjadi seseorang yang tegas dan menyendiri, dan menghormati anak-anak mereka. laki-laki hampir tidak pernah memegang bayi. ayah berinteraksi lebih banyak dengan balita tetapi melakukan tugas penitipan anak hanya jika ibu tidak ada. Di daerah pusat afrika ayah adalah sebagai nurturant dan emosional mendukung sebagai ibu. pada kenyataannya ayah Aka memberikan perawatan bayi lebih langsung daripada ayah dalam masyarakat lain yang dikenal dalam keluarga Aka. Suami dan istri sering bekerja sama dalam tugas subsintence dan kegiatan lainnya. dengan demikian, keterlibatan ayah dalam perawatan anak-anaknya dan merupakan bagian dalam paket peran secara keseluruhan dalam keluarga.
Ayah di seluruh dunia berbeda dalam cara mereka bermain dengan bayi mereka. gaya yang sangat psysical dari pucat, karakteristik banyak ayah di Amerika Serikat, tidak khas ayah dalam semua budaya. ayah Swedia dan Jerman biasanya tidak bermain dengan bayi mereka dengan cara ini. ayah alias Afrika dan orang-orang di new delhi, india juga cenderung untuk bermain lembut dengan anak-anak kecil. seperti variasi lintas budaya menunjukkan bahwa bermain kasar bukan merupakan fungsi biologi laki-laki, tetapi secara kultural dipengaruhi.
BAGAIMANA ORANG TUA MEMBENTUK PERBEDAAN GENDER ?
Menjadi laki-laki atau perempuan mempengaruhi bagaimana orang melihat, bagaimana mereka menggerakkan tubuh mereka, dan bagaimana mereka bekerja, bermain dan berpakaian. dalam pengaruh apa yang mereka pikirkan tentang diri mereka sendiri dan apa yang lainnya berpikir mereka. semua karakteristik-dan lebih-yang termasuk dalam jenis kelamin kata: apa artinya menjadi laki-laki atau perempuan. Perbedaan terukur antara bayi laki-laki dan bayi perempuan sedikit, setidaknya dalam diri kita sampel. Anak laki-laki sedikit lebih lama dan lebih berat dan mungkin sedikit lebih kuat, tetapi seperti yang telah disebutkan sebelumnya, mereka secara fisik lebih vurnerable dari konsepsi on. Gadis kurang reaktif terhadap stres dan lebih mungkin untuk bertahan hidup bayi. Kedua jenis kelamin sama-sama sensitive menyentuh snd cenderung teethr, duduk, dan berjalan di abiut usia yang sama. mereka juga mencapai tonggak motor lain dari bayi pada sekitar waktu yang sama.
Namun, orang tua cenderung berpikir bayi laki-laki dan anak perempuan lebih berbeda dari mereka sebenarnya. dalam studi bayi yang baru mulai merangkak, ibu secara konsisten punya harapan yang tinggi untuk mensukses anak-anak mereka dalam merangkak daripada anak perempuan mereka. Namun, saat diuji, bayi perempuan anak laki-laki menunjukkan tingkat kinerja yang sama.
Salah satu perbedaan perilaku antara laki-laki dan awal gadis, muncul antara 1 dan 3 tahun, berada dalam preferensi untuk mainan dan kegiatan bermain dan untuk teman bermain dari jenis kelamin yang sama. Antara usia 2 dan 3 anak laki-laki dan perempuan cenderung mengatakan banyak kata yang berkaitan dengan seks sendiri dibandingkan dengan jenis kelamin lainnya.
Orangtua membentuk anak laki-laki dan kepribadian perempuan tampaknya mulai sangat awal. ayah, terutama mempromosikan pembentukan gender, proses dimana anak-anak belajar perilaku yang budaya mereka menganggap sesuai untuk setiap jenis kelamin. ayah memperlakukan anak laki-laki dan perempuan lebih berbeda dari ibu lakukan, bahkan selama tahun pertama. selama tahun kedua, ayah berbicara lebih banyak dan menghabiskan lebih mendukung, untuk anak perempuan daripada anak laki-laki, dan anak perempuan pada usia ini cenderung lebih banyak bicara daripada anak laki-laki. ayah dari balita bermain lebih kasar dengan anak-anak dan menunjukkan kepekaan lebih untuk anak perempuan.



B. ISU PERKEMBANGAN PADA MASA BAYI
Bagaimana bayi baru lahir bergantung, dengan repertoar emosi yang terbatas dan menekan kebutuhan fisik, menjadi seorang anak dengan perasaan yang kompleks dan kemampuan untuk memahami dan mengendalikan mereka. Banyak perkembangan ini berputar di sekitar isu-isu mengenai hubungan dengan pengasuh.

1. Mengembangkan Kepercayaan
Untuk jangka waktu jauh lebih lama daripada mamalia yang muda lainnya, bayi manusia pada umumnya meminta untuk makanan, untuk perlindungan dan untuk hidup mereka. bagaimana mereka datang untuk percaya bahwa kebutuhan mereka akan dipenuhi?
Menurut Erikson, pengalaman awal adalah kunci yang pertama dari delapan tahapan Erikson dalam perkembangan psikososial merupakan kepercayaan dasar vs ketidakpercayaan dasar. Ini tahapan dimulai pada masa bayi dan berlanjut sampai sekitar 18 bulan. di bulan-bulan awal, bayi mengembangkan rasa kehandalan dari orang-orang dan benda-benda di dunia mereka. mereka perlu mengembangkan keseimbangan antara kepercayaan (yang memungkinkan mereka membentuk hubungan intim) dan ketidakpercayaan (yang memungkinkan mereka untuk melindungi diri mereka). jika kepercayaan mendominasi, sebagaimana mestinya, anak mengembangkan "kebajikan" harapan: keyakinan bahwa mereka dapat memenuhi kebutuhan mereka dan mendapatkan keinginan mereka, jika ketidakpercayaan mendominasi, anak-anak akan melihat dunia sebagai tidak bersahabat yang tidak terduga dan akan memiliki hubungan troubel pembentuk.
Elemen penting dalam mengembangkan kepercayaan sensitif, pengasuhan responsif, konsisten. Erikson melihat situasi makan sebagai pengaturan untuk menetapkan hak campuran kepercayaan dan ketidakpercayaan. bisa jumlah bayi diberi makan pada saat lapar, dan dapat bayi karena percaya ibu sebagai wakilnya di dunia? kepercayaan bayi untuk membiarkan ibu keluar dari pandangan "karena ia telah menjadi kepastian batin serta prediktabilitas luar". ini kepercayaan batin, di cathy Bateson, mungkin telah membentuk landasan yang kokoh bagi masa depan lebih sulit.
2. Mengembangkan Kelekatan
            Kelekatan (attachment) adalah ikatan emosional menetap yang kuat, bertimbal balik antara bayi dan pengasuh (orang tua), dan berperan penting dalam kualitas hubungan tersebut.Kelekatan tersebut dapatdikembangkan oleh bayi melalui interaksinya terhadap pengasuh dan sebaliknya.

Pola Kelekatan
Kelekatan pertama sekali dikemukakan oleh John Bowlby pada tahun 1951 dan kemudian dijelaskan lagi oleh mahasiswa Bowlbyyaitu Mary Ainsworth. Bowlby yakin terhadap pentingnya kelekatan antara bayidan orang tua terutama ibu dan menghindari perpisahan antara ibu-bayi tanpa memberikan pengasuh pengganti yang tepat. Hal yang meyakinkan Bowlby akan hal tersebut dikarenakan hasil dari penelitian terhadap hewan dan pengamatan terhadap anak-anak dengan gangguan di klinik psikoanalisa di London. Bowlby mengatakan bahwa dalam interaksinya, anak mengembangkan kesadaran berdasarkan dua sikap yang penting. Sikap yang pertama adalah evaluasi mengenai diri sendiri (self esteem), dan sikap yang kedua adalah sikap mengenai kepercayaan dan harapan terhadap orang lain (interpersonal trust). Sedangkan Ainsworth mengembangkan teknik situasi asing(strange situation) yaitu teknik situasi terkontrol yang dilakukan untuk mengetahui pola kelekatan antara bayidengan orang dewasa dan ibu dari bayi tersebut. Dari hasil situasi asing (strange situation) tersebut, Ainsworth dan rekannya menemukan tiga pola kelekatan yang bersifat universal, yaitu:kelekatan aman (secure attachment), kelekatan menghindar (avoidant attachment), dan kelekatan ambivalen-resistan (ambivalen-resistant attachment). Ada penelitian lain (Main & Solomon, 1986) yang menemukan pola kelekatan baru, yaitu kelekatan tidak teratur-tidakterarah (disorganized-disoriented attachment).
a)      Pola Kelekatan Aman (secure attachment)
Pola dimana anak menangis atau protes ketika ibu meninggalkannya dan menyambut dengan gembira ketika ibu dating kembali.Anak tersebut menanggap orang tua (pengasuhnya) merupakan secure base, dimana anak akan merasa nyaman.
b)     Pola Kelekatan Menghindar (avoidance attachment)
Pola dimana anak memiliki sedikit interaksi dengan pengasuhnya. Anak cenderung tidak menangis ketika ibu meninggalkannya tetapi menghindar ketika ibu kembali. Anak dengan pola ini cenderung tidak menghampiri ibunya ketika membutuhkan sesuatu. Anakmengungkapkan rasa tidakaman yang dirasakannyadengancaramenghindar.
c)      Pola Kelekatan Ambivalen-Resistan
Pola dimana anak menjadi gelisah sebelum ibu pergi dan menjadi sangat marah ketika ibu meninggalkannya.

d)     Pola Kelekatan tidak teratur-tidak terarah (disorganized-disoriented attachment)
Pola bayi dengan pola ini tampak tidak memiliki strategi yang terorganisasi untuk menghadapi stress pada strange situation. Bayi menunjukkan tidak teratur-tidak terarahnya dengan mencari kedekatan dengan orang lain bukan dengan ibunya dan mereka terkadang tampak bingung dan takut.

Bagaimana Kelekatan Terjalin?
Ainsworth dan Bowlby memberikan usul bahwa bayi membangun suatu “model kerja (working model)” tentang apa yang diharapkannya dari ibu. Perasaan aman bayi dapat berubah jika ibu memberikan respon lain atau pun tingkah laku ibu yang berbeda dari biasanya.Model kerja pada kelekatan ini berhubungan dengan konsep basic-trust Erikson. Kelekatan aman mencerminkan rasa percaya sedangkan kelekatan tak aman menunjukkan rasa tidak percaya.
Berbagai Metode Baru untuk Penelitian Kelekatan
Beberapa peneliti mencari metode baru untuk penelitian kelekatan dikarenakan adanya peneliti yang mempertanyakan validitas dari metode strange situation. Karena metode tersebut dianggap sangatlah aneh, ibu diminta untuk tidak memulai interaksi dan berulang kali meninggalkan bayi bersama orang asing dan mengharapkan bayi memperhatikan mereka. Alasan lain juga dikarenakan strange situation adalah teknik yang tidak valid terhadap berbagai budaya, seperti budaya nonbarat. Para peneliti mulai mencari metode dimana metode strange situation dapat dilengkapi dengan metode yang lebih bersifat alamiahdan universal.
Waters dan Deane mengemukakan metode yang dinamakan Attachment Q-set (AQS) yang meminta ibu atau pengasuh dirumah untuk mengamati anak dan mengurutkan sekelompok kata-kata deskriptif yang paling menggambarkandan paling tidak menggambarkan perilaku bayi tersebut dan membandingkannya dengan anak yang memiliki prototype kelekatan aman (secure attachment). Temuan-temuan ini menunjukkan bahwa kecenderungan menggunakan ibu sebagai dasar dari rasa aman bersifat universal, walaupun bentuknya bervariasi. Namun, AQS hanya mengukur derajat kelekatan rasa aman, maka peneliti lebih baik jika melengkapinya dengan metode strange situation untuk mengetahui apakah ada bentuk kelekatan tidak aman atau kelekatan tidak teratur pada anak tersebut.

Peran Temperamen                                                 
Berdasarkan penelitian pada bayi berusia 6 hingga 12 bulan, baik sensitivitas ibu maupun temperamen bayi mempengaruhi kelekatan. Dengan demikian, bayi yang lekas marah memiliki kecenderungan untuk dapat menghambat perkembangan kelekatan aman, tetapi tidak terjadi jika ibu dapat mengatasi secara baik temperamen dari bayi tersebut.
Kecemasan Orang Asing dan Kecemasan Perpisahan
Kecemasan perpisahan (separation anxiety) adalah kesedihkan yang ditunjukkan oleh seseorang saat pengasuhnya pergi. Sedangkan kecemasan orang asing adalah kecemasan terhadap orang dan tempat asing yang ditunjukkan oleh beberapa bayi semasa paruh akhir tahun pertama.Tangisan bayi ketika orang tua meninggalkannya maupun ketika orang asing mendekatinya lebih menunjukkan temperamen dari bayi tersebutdaripada menggambarkan pola kelekatannya. Kecemasan perpisahan juga dapat dikarenakan pergantian pola asuh dari pengasuh, maka disarankan bahwa pola pengasuhan haruslah bersifat stabil.

Pengaruh Jangka Panjang Kelekatan
Pada teori kelekatan dikatakan bahwa kelekatan yang aman sepertinya mempengaruhi kompetensi emosional, social, dan kognitif. Semakin dekat kelekatan anak dengan pengasuh maka tampak semakin mudah bagi anak tersebut untuk berinteraksi dan berhubungan baik dengan orang lain. Seseorang anak yang mendapatkan rasa aman dan dapat mempercayai pengasuhnya cenderung memiliki rasa percaya diri yang cukup untuk aktif di dunia mereka. Antara usia 3 dan 5 tahun, mereka juga cenderung memiliki persahabatan yang lebih eratdibandingkan anak dengan kelekatan tidak aman dan keuntungan dari kelekatan aman ini akan terus berlanjut pada anak tersebut.

Transmisi Pola Kelekatan Antar Generasi
Penelliti menggunakan adult attachment interview (AAI) yang merupakan wawancara semi-terstruktur yang menanyakan orang dewasa untuk mengingat masa lalu mereka yang berhubungan dengan kelekatan pada masa kanak mereka. Penelitian ini menemukan bahwa orang dewasa akan memprediksi rasa aman yang mereka lekatkan pada anak mereka sendiri.
Orang dewasa yang mengingat pengalaman masa kecil dengan orang tuanya akan mempengaruhi emosional mereka dalam cara memberikan respon kepada anak mereka sendiri. Seorang ibu yang menjalin kelekatan aman dengan ibunya akan mengerti tingkah laku kelekatan bayinya. Ibu yang terikat pada masa lalu mereka cenderung menunjukkan rasa marah dan kekasaran dalam interaksidengan anak mereka.Sedangkan ibu yang melupakan ingatan masa lalunya akan cenderung bersifat dingin dan tidak responsive terhadap anaknya.

3. Komunikasi Emosional dengan Pengasuh: Regulasi Timbal Balik
Bayi memiliki dorongan kuat untuk berinteraksi dengan orang lain. Interaksi ini memengaruhi rasa aman dari kelekatan bergantung pada kemampuan baik anak dan pengasuh untuk merespon dengan cepat dan secara sensitive terhadap keadaan mental dan emosional satu sama lain. Hal ini adalah suatu proses yang disebut sebagai Regulasi timbal balik. Bayi menunjukkan interaksinya dengan cara mengirim sinyal perilaku kepada pengasuh dan melihat respon dari pengasuhnya. Regulasi timbale balik ini mengajarkan bayi untuk membaca tingkah laku seseorang dan menyesuaikan ekspetasinya dengan tingkah lakunya.
Terdapat proses penelitian yang digunakan untuk mengukur regulasi timbale balik pada bayi usia 2 sampai dengan 9 bulan. Proses tersebut disebut dengan “still-face” paradigm. Pada episode ini seorang ibu diminta untuk mengikuti interaksi normal dengan bayi kemudian secara tiba-tiba merubah ekspresinya menjadi kaku dan diam. Setelah beberapa menit kemudian ibu berinteraksi secara normal kembali (proses reuni). Dari proses tersebut didapatkan bahwa cara ibu melihat dan memandang bayinya berpengaruh terhadap respon bayi pada proses “still face” paradigm. Dan bayi dengan orang tua lebih responsive dan sensitive dapat lebih mampu menghibur dan menenangkan dirinya sendiri ketika proses reuni.
4. Perujukan Sosial (Sosial Referencing)
Pada usia 9 bulan, bayi mulai bias menyendiri dan berperilaku kompleks. Pada masa ini mereka mengalami peralihan perkembangan yang penting, dimana mereka mulai mampu untuk berpartisipasi dalam komunikasi dengan orang lain tentang suatu kejadian  eksternal. Pada masa ini mereka dapat melibatkan diri dalam berbagai afektif, membiarkan orang lain mengerti tentang kondisinya, serta bereaksi terhadap emosi yang ditunjukkan oleh orang lain. Menurut Hertenstein dan Campos, perkembangan ini merupakan kunci penting dari Sosial Referencing karena kemampuan dalam mendapatkan informasi emosional sebagai pemandu  perilaku mereka akan terbentuk. Namun hal ini ditentang oleh Baldwin dan Moses sebab menurut mereka, bisa  saja bayi bukan mencari suatu informasi melainkan mencari rasa nyaman dan perhatian dari oranglain.
Namun demikian, setelah dilakukan penelitian lebih lanjut terbukti bahwa adanya proses Sosial Referencing pada usia 1 tahun. Hal ini terlihat saat diberikannya mainan yang bergoyang diikat dilangit-langit, bayi yang berusia 12-18 bulan bergerak mendekat atau menjauh dari mainan tersebut tergantung dari perasaan bayi (apakah ia merasa senang atau sebaliknya).

C. ISU PERKEMBANGAN PADA MASA BALITA
          Seiring berjalannya waktu bayi akan berkembang semakin dewasa memasuki tahap anak-anak. Pada masa ini terjadi banyak perkembangan yang terlihat dari keterampilan fisik dan kognitif seperti berjalan dan berbicara. Selain itu, kemampuan sosial seperti berinteraksi dengan oranglain juga akan semakin berkembang pada masa ini.
            Terdapat tiga isu psikologis yang dihadapi oleh balita dan pengasuhnya pada masa ini, seperti : Munculnya rasa diri (sense of self), pertumbuhan kemandirian, atau determinasi diri (self determination), Dan sosialisasi, atau internasisasi dari standar perilaku.

1. Munculnya Sense of Self
            Konsep diri (self concept) merupakan gambaran utuh tentang kemampuan dan sifat kita. Menurut Harter, konsep diri menggambarkan apa yang kita ketahui dan rasakan tentang diri kita dan memandu tindakan kita.
            Konsep diri berkembang melalui pengalaman yang telah dialami. Bayi mulai menangkap pola konsisten yang membentuk konsep dasar tentang dirinya dan orang lain. Hal itu didapatkan bayi melalui pola pengasuhan yang ia dapatkan yang terbentuk saat bayi tersebut merespon berbagai perlakuaan yang dia dapatkan. Dalam pengorganisasian diri emosi yang menyenangkan dan yang tidak menyenangkan terkait dengan pengalaman sensomotorik sangat berperan penting.
            Diusia antara 4-10 bulan, bayi mengalami sense of personal agency saat mereka belajar meraih, menggenggam, dan membuat berbagai hal terjadi. Sense of personal agency itu sendiri merupakan suatu kesadaran bahwa mereka dapat mengendalikan  kejadian eksternal. Sense of personal agency juga merupakan cikal bakal dari Teori Bandura yakni self efficacy yang merupakan perasaan yang mampu mengusai tantangan dan mencapai tujuan. Pada masa ini bayi mengembangkan koherensi diri, perasaan utuh secara fisik dengan batasan dimana agen pelaku berada. Perkembangan ini terjadi dalam interaksi dengan orang lain dalam permainan seperti cilukba, dimana bayi semakin paham terhadap perbedaan antara diri dan orang lain
            Pemunculan rasa sadar tentang diri sebagai makhluk yang berdeda dari yang lain dan dapat diidentifikasi melalui permulaan diskriminasi perseptual antara diri dan orang lain. Diskriminasi perseptual dini ini mungkin merupakan fondasi dari konseptual mawas diri yang berkembang antara usia 15-18 bulan. Pada saat ini bayi dapat mengenali diri mereka sendiri melalui cara mereka dalam menunjukkan preferensi untuk membandingkan diri mereka dengan anak lain maupun memperhatikan perubahan sederhana yang terjadi pada mereka saat bercermin.
            Pada usia 20-24 bulan, bayi mulai dapat menggunakan kata ganti orang pertama (saya), hal ini merupakan salah satu bentuk dari mawas diri. Antara usia 19-30 bulan, mereka mulai menggunakan istilah deskriptif dan evaluatif terhadap diri mereka sendiri. Perkembangan bahasa yang cepat memungkinkan anak berfikir dan berbicara tentang diri dan memasukkan deskripsi verbal orangtua mereka.

2. Perkembangan Otonomi
Erikson menyatakan bahwa 18 bulan sampai 3 tahun merupakan tahap kedua dalam personality atau kepribadian. Pembentukan perlawanan, rasa malu , dan ragu dtandai dengan pergeseran dari kontrol eksternal untuk kontrol diri.
Pelatihan toilet merupakan salah satu langkah penting membentuk otonomi dan kontrol diri. Sebagai anak-anak, mereka ingin keinginan mereka didengarkan dan dimengerti. Mereka menjadi lebih kuat karena kebebasan yang tiada batas yang sebenarnya kurang baik bagi mereka.
Balita membutuhkan orang dewasa untuk menetapkan batasan-batasan yang sesuai bagi mereka. Rasa malu dan keraguan juga membantu mereka mengenali kebutuhan dari batasan-batasan tersebut.
Di USA , “terrible twos” merupakan sesuatu yang normal untuk membentuk diri. Balita beranggapan bahwa mereka juga adalah individu. Mereka memiliki kontrol atas kata-kata mereka dan memiliki kemampuan yang menarik. Mereka didorong untuk mencoba ide mereka sendiri dan membuat keputusan mereka sendiri.
Pada masa ini biasanya, mereka menunjukan diri dalam bentuk negativisme atau sifat kenegatifan dan berusaha untuk menentang otoriter.
Hampir semua anak AS menunjukan kenegatifan untuk beberapa derajat, biasanya dimulai pada usia 2 tahun, cenderung memuncak pada usia 3,5 - 4 tahun dan menurun pada usia 6 tahun. Ini adalah hal yang normal bagi pengasuh anak, untuk berjuang demi kemerdekaan bukan sebagai keras kepala dan ini dapat membantu mereka mengendalikan diri dan menghindari konflik yang berlebihan.
Sedangkan di beberapa negara berkembang,  transisi dari bayi ke anak-anak relatif lebih halus dan harmonis.

3. Perkembangan Moral: Sosialisasi dan Internalisasi
Sosialisasi merupakan proses dimana anak mengembangkan tingkah laku, skill, nilai dan motif mereka agar lebih peduli dan menjadi bagian dari masyarakat yang produktif. Dan Internalisasi adalah proses dimana anak-anak menyetujui atau menerima standar-standar sosial kelakuan mereka. Sosialisasi bergantung pada Internalisasi dimana anak yang sudah sukses berinteraksi tidak lagi mematuhi peraturan atau perintah untuk mendapatkan imbalan atau menghindari hukuman. Mereka menjadikan standar sosial sebagai standar mereka sendiri.

Developing self-regulation ( mengembangkan aturan pribadi )
Adalah kontrol daripada tingkah laku seseorang untuk merasa nyaman pada permintaan seorang pemberi perhatian atau pengharapannya, bahkan ketika si pemberi perhatian tidak ada.
Contoh : Latica, 2 tahun. Ia mencoba menyentuh saklar lampu. Ketika ia mendengar ayahnya berkata “Tidaak”, bayi tersebut secara otomatis mengangkat tangannya menjauh dari saklar tersebut. Beberapa hari kemudian, ia mencoba menyentuh saklar lampu kembali, kemudian ada yang berkata “Tidak”. Dia menghentikan dirinya untuk melakukan sesuatu yang dia ingat saat dia tidak diperbolhkan melkukan hal itu.
Self-regulation adalah dasar daripada Sosialisasi, dan juga menghubungkan semua bidang psikologi perkembangan.
Sebelum mereka bisa mengontrol tingkah laku mereka, anak-anak mungkin membutuhkan agar bisa mengatur atau mengontrol proses perhatian mereka dan untuk mengatur emosi negatif mereka.

Origins of Conscience
Dasar daripada hati nurani : menjalankan memenuhi hati nurani memasukan kedua emosi yang tidak nyaman ketika melekukan sesuatu yang salah dan kemamuan untuk menahan dari melakukan hal tersebut. Anak-anak dituntut untuk menunjukkan Pemenuhan yang dijalani jika mereka dengan sepenuh hati mengikuti aturan-aturan.


Faktor agar sukses di Sosialisasi
Kasih sayang, keamanan dan sebuah kehangatan, hubungan antara orang tua dan anak sepertinya membantu dalam Pemenuhan yang dijalani dengan hati nurani. Dari tahun kedua anak sampai umur sekolah.
Membangun konflik diatas miskepribadian anak- konflik yang membelitkan perundingan, alasan dan resolusi- dapat membantu anak mengembangkan pengertian moral dengan memungkinkan mereka untuk melihat point-point lain dari pandangan mereka.
Diskusi emosi konflik pada situasi “ Bagaimana perasaanmu jika . . . “, selalu memimpin perkembangan kata hati, barangkali bisa meningkatkan perkembangan moral.










           












DAFTAR PUSTAKA

Dariyo, Agoes. 2007. Psikologi Perkembangan Anak Tiga Tahun Pertama. Jakarta : Refika Aditama.

Papalia, Diane E. 2007. Human Development. New York : McGraw-Hill.

Papalia, Diane E. 2009. Perkembangan Manusia. Jakarta : Salemba Humanika.






Tidak ada komentar:

Poskan Komentar