Rabu, 03 Juli 2013

Psikologi Sosial Part 1

PSIKOSOSIAL
(Part 1)

D
I
S
U
S
U
N
Oleh :

R M AFIF HANDRI NABAWI (12-010)
RISKA ANDANI SIMARGOLANG (12-012)
CATHERIN FEBRIYANTY (12-036) 
SANTHA REBECCA (12-106)



UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
FAKULTAS PSIKOLOGI

2013


KATA PENGANTAR

Dengan mengucap rasa syukur Alhamdulillah berkat rahmat Allah SWT dapat menyelesaikan makalah ini. Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas Presentase dan pembuatan makalah dalam mata kuliah Psikologi Umum 2. Dalam penyusunan makalah ini, tidak sedikit hambatan yang kami hadapi, namun dengan semangat dan rasa tanggung jawab, kami akhirnya dapat menyelesaikan makalah ini.

Dalam kesempatan ini, kami menyampaikan rasa terimakasih kepada dosen mata kuliah Psikologi Umum 2 ibu Ika sari Dewi, M. Psi yang telah membantu mengarahkan dan memberi tugas penyusunan makalah ini.

Kami menyadari bahwa penyusunan makalah ini masih jauh dari sempurna, sehingga kami mengharap kritik dan saran yang membangun agar kami dapat lebih baik lagi dalam mengerjakan makalah selanjutnya. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi para pembaca dan yang membutuhkan. Mohon maaf bila ada kesalahan dalam pembuatan makalah ini.


                                                                                   
Medan,  29 Juni 2013

Penyusun





DAFTAR ISI                         
KATA PENGANTAR.......................................................................................... ii
DAFTAR ISI.......................................................................................................... iii
BAB I       PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang................................................................................. 1
B.     Masalah............................................................................................ 1
C.     Tujuan .............................................................................................. 1
D.    Studi Kasus ..................................................................................... 2

BAB II      PEMBAHASAN
A.    Definisi............................................................................................. 3
B.     Persepsi ............................................................................................ 3
C.     Atribusi............................................................................................. 4
D.    Attitudes dan Persuasi....................................................................... 9
E.     Prejudice dan Stereotype.................................................................. 16
F.      Kelompok dan pengaruh sosial........................................................ 19

BAB III    PENUTUP
A.    Kesimpulan....................................................................................... 28
B.     Saran................................................................................................. 28
                 
DAFTAR PUSTAKA............................................................................................ iv


BAB I
PENDAHULUAN

A.      LATAR BELAKANG

Diri pribadi adalah suatu ukuran atau kualitas yang memungkinkan seseorang untuk dianggap dan dikenali sebagai individu yang berbeda dengan individu lainnya. Kualitas yang membuat seseorang yang memiliki kekhasan tersendiri sebagai manusia, tumbuh dan berkembangnya melalui interaksi sosial, yaitu berkomunikasi dengan orang lain. Individu tidak dilahirkan dengan membawa kepribadian. Seperti halnya diri fisik kita, maka diri sosial dan diri psikologis manusia akan terus berkembang dan menjadi matang sejalan dengan usia hidup kita.
Pengalaman dalam kehidupan akan membentuk diri pribadi setiap manusia, tetapi setiap orang juga harus menyadari apa yang sedang terjadi dan apa yang telah terjadi pada dirinya. Kesadaran terhadap diri pribadi ini pada dasarnya adalah suatu proses persepsi yang ditujukan pada dirinya sendiri. Dalam hal ini orang akan berusaha untuk mengenali dan memahami siapa dirinya.


B.       MASALAH ATAU TOPIK BAHASAN

Masalah yang akan dibahas dalam makalah ini adalah mengenai  Psikososial part 1 yang terdiri dari beberapa sub bab yang meliputi Defenisi, Persepsi, Attribusi, Sikap dan Persuasi, serta mengenai Kelompok dan pengaruh sosialnya.


C.      TUJUAN

Makalah  ini dibuat dengan tujuan untuk memenuhi tugas presentase dan agar kita bisa memahami lebih dalam tentang konsep dasar Psikososial part 1.

D.    STUDI KASUS

Lawrence Graham, ingin mendapatkan sebuah pekerjaan. Ia adalah seorang African American (orang berkulit hitam). Ia telah menghubungi beberapa country club untuk melamar sebagai waiter, namun secara mengherankan setiap di interview dia selalu ditolak dengan alasan yang tidak bisa diterima.
Pada akhirnya Lawrence mendapatkan sebuah pekerjaan di country club, namun ia tidak menjadi pelayan melainkan pembantu di suatu country club. Hal ini membuat Lawrence bisa mendengar beberapa percakapan ‘internal’ dari country club tersebut. Apa yang terjadi? Ternyata bos si Lawrence terkejut mendengar tutur kata dan perilaku Lawrence.
Usut punya Usut, ternyata Lawrence adalah seorang lulusan sarjana hukum di Harvard Law University dan ingin meneliti mengapa sebagian besar country club memperlakukan kulit hitam secara berbeda. Hal ini menunjukkan ada stereotype dan diskriminasi pada ras.


















BAB II
PEMBAHASAN

A.   DEFINISI
Psikologi sosial adalah suatu studi tentang hubungan antara manusia dan kelompok. Para ahli dalam bidang  interdisipliner  ini pada umumnya adalah para ahli psikologi atau sosiologi, walaupun semua ahli psikologi sosial menggunakan baik individu maupun kelompok sebagai unit analisis mereka.
Psikologi sosial sempat dianggap tidak memiliki peranan penting, tapi kini hal itu mulai berubah. Dalam psikologi modern, psikologi sosial mendapat posisi yang penting. Psikologi sosial telah memberikan pencerahan bagaimana pikiran manusia berfungsi dan memperkaya jiwa dari masyarakat kita. Melalui berbagai penelitian laboratorium dan lapangan yang dilakukan secara sistematis, para psikolog sosial telah menunjukkan bahwa untuk dapat memahami perilaku manusia, kita harus mengenali bagaimana peranan situasi, permasalahan, dan budaya.
Walaupun terdapat banyak kesamaan, para ahli riset dalam bidang psikologi dan sosiologi cenderung memiliki perbedaan dalam hal tujuan, pendekatan, metode dan terminologi mereka. Mereka juga lebih menyukai jurnal akademik danmasyarakat profesional yang berbeda. Periode kolaborasi yang paling utama antara para ahli sosiologi dan psikologi berlangsung pada tahun-tahun tak lama setelah Perang Dunia II. Walaupun ada peningkatan dalam hal isolasi dan spesialisasi dalam beberapa tahun terakhir, hingga tingkat tertentu masih terdapat tumpang tindih dan pengaruh di antara kedua disiplin ilmu tersebut.

B.   PERSEPSI INDIVIDU (PERSON PERCEPTIONS)
Persepsi individu adalah proses yang terjadi ketika individu melihat individu yang lain dan memulai kesan pertama serta membuat penilaian (judgement) mengenai kecendrungan dan tipe individu tersebut. Misalnya: Niat, sifat dan sikap, tingkah laku.
Ketika individu membentuk kesan pertama, ada 4 hal yang secara bersamaan mempengaruhi penilaian seseorang:
  1. Penampilan fisik (physical appearance)
Kesan pertama sangat dipengaruhi oleh bagaimana penampilan individu dan ini menghasilkan penilaian yang cenderung bias.
  1. Kebutuhan untuk menjelaskan (need to explain)
Individu cenderung menilai individu yang lain tidak hanya dengan melihat atau mengobservasi namun juga kenapa mereka berpenampilan atau berperilaku seperti itu.
  1. Pengaruh pada perilaku (influence on behavior)
Kesan pertama akan mempengaruhi bagaimana individu akan berinteraksi atau memperlakukan individu lain setelah kesan pertamanya
  1. Efek dari Ras (effects of race)
Peneliti menemukan bahwa anggota dari sebuah ras umumnya mengenali wajah ras mereka sendiri lebih akurat daripada ras lain (Ferguson et all, 2001). Artinya adalah individu mungkin merasa individu lain yang memiliki ras yang berbeda adalah bias atau berbeda/distorted dari ras miliknya. Hal ini akan mempengaruh ‘racial attitude’ atau perilaku pada ras tertentu..

C.   ATRIBUSI

Teori Atribusi adalah teori yang menyatakan bahwa seseorang termotivasi untuk menjelaskan perilaku mereka sendiri dan orang lain berdasarkan pada 2 kategori faktor, yaitu faktor situasi ataupun faktor  disposisi.
Attribusi penting untuk dipelajari dalam pembahasan psikologi sosial karena hal ini dapat menerangkan pada kita bagaimana seseorang menjelaskan suatu prilaku. Dengan mempelajari Attribusi, kita juga dapat melihat bias-bias yang terjadi ketika seseorang menjelaskan prilaku orang lain, yang kemudian, pada gilirannya mempengaruhi perilaku mereka sendiri.
Penelitian tentang atribusi di Amerika Serikat terpusat pada beberapa isi, salah satunya terkait dengan tipe atau jenis atribusi yang dibuat orang, terutama dalam kaitannya dengan sumber atau lokus attribusi kausalitas mereka. Menurut Myers (1996), kecenderungan memberi atribusi disebabkan oleh kecenderungan manusia untuk menjelaskan segala sesuatu, termasuk apa yang ada dibalik perilaku orang lain.
Kajian tentang atribusi pada awalnya dilakukan oleh Frizt Heider (1958). Menurut Heider, setiap individu pada dasarnya adalah seseorang ilmuwan semu (pseudo scientist) yang berusaha untuk mengerti tingkah laku orang lain dengan mengumpulkan dan memadukan potongan-potongan informasi sampai mereka tiba pada sebuah penjelasan masuk akal tentang sebab-sebab orang lain bertingkah laku tertentu.
Dengan kata lain seseorang itu selalu berusaha untuk mencari sebab mengapa seseorang berbuat dengan cara-cara tertentu. Misalkan kita melihat ada seseorang melakukan pencurian. Sebagai manusia kita ingin mengetahui penyebab kenapa dia sampai berbuat demikian.
            Dua fokus perhatian di dalam mencari penyebab suatu kejadian, yakni sesuatu di dalam diri atau sesuatu di luar diri. Apakah orang tersebut melakukan pencurian karena sifat dirinya yang memang suka mencuri, ataukah karena faktor di luar dirinya, dia mencuri karena dipaksa situasi, misalnya karena dia harus punya uang untuk membiayai pengobatan anaknya yang sakit keras. Bila kita melihat/menyimpulkan bahwa seseorang itu melakukan suatu tindakan karena sifat-sifat kepribadiannya (suka mencuri) maka kita telah melakukan atribusi internal (internal attribution). Tetapi jika kita melihat atau menyimpulkan bahwa tindakan yang dilakukan oleh seseorang dikarenakan oleh tekanan situasi tertentu (misalnya mencuri untuk membeli obat) maka kita melakukan atribusi eksternal (external attribution).
Proses atribusi telah menarik perhatian para pakar psikologi sosial dan telah menjadi objek penelitian yang cukup intensif dalam beberapa dekade terakhir. Cikal bakal teori atribusi berkembang dari tulisan Fritz Heider (1958) yang berjudul “Psychology of Interpersonal relations). Dalam tulisan tersebut Heider menggambarkan apa yang disebutnya “native theory of action”, yaitu kerangka kerja konseptual yang digunakan orang untuk menafsirkan, menjelaskan, dan meramalkan tingkah laku seseorang. Dalam kerangka kerja ini, konsep intensional (seperti keyakinan, hasrat, niat, keinginan untuk mencoba dan tujuan) memainkan peran penting.
Menurut Heider ada dua sumber atribusi tingkah laku:
(1). Atribusi internal atau atribusi disposisional.
 (2). Atribusi eksternal atau atribusi lingkungan.
Pada atribusi internal kita menyimpulkan bahwa tingkah laku seseorang disebabkan oleh sifat-sifat atau disposisi (unsur psikologis yang mendahului tingkah laku). Pada atribusi eksternal kita menyimpulkan bahwa tingkah laku seseorang disebabkan oleh situasi tempat atau lingkungan orang itu berada, dua teori yang paling menonjol dari segi konsep dan penelitian, yaitu teori inferensi terkait (correspondence inference) dari Jones dan Davis (1965) dan teori ko-variasi Kelley (Kelly’s covarioance Theory) yang dirumuskan oleh Harlod Kelley (1972). Sedang menurut buku pengantar psikologi lintas budaya karangan David Matsumoto, Salah satu konsep popular dalam penelitian atrribusi, sebagai contoh, adanya pembedaan antara atribusi internal dan eksternal. Atibusi internal adalah atribusi yang memandang bahwa penyebab prilaku ada dalam diri pelakunya; atribusi eksternal adalah atribusi yang memandang penyebab prilaku berada diluar diri seseorang.
Atribusi sudah banyak diteliti dalam situasi-stuasi prestatif, mulai dari setting akademik sampai konteks olahraga dan pekerjaan. Penelitian-penelitan ini, pada gilirannya, membauhkan beberapa teori utama tentang atribusi. Penelitian tentang bias atribusi- kecenderungan untuk menarik tipe-tipe atribusi tertentu meski tidak didukung bukti – telah menghasilkan beberapa konsep yang popular dalam psikologi sosial, seperti kesalahan atribusi mendasar (fundamental attribution error), atribusi defensif, dan bias yang menguntungkan diri ( self – serving bias).
Bias-bias dalam attribusi
Ini adalah kecenderungan untuk melebih-lebihkan pengaruh disposisi pada perilaku orang lain.  Anda cenderung untuk menganggap bahwa perilaku orang lain disebabkan oleh sikap, kepribadian, perasaan, emosi, kemampuan, kesehatan, keinginan, niat, kesukaan, dan usaha. Anda kurang memperhatikan situasi dimana perilaku itu timbul.

Bagaimana bias ini terjadi? Ini disebabkan setidaknya 3 hal. Pertama, pada saat Anda melihat sebuah perilaku, otomatis Anda akan berfokus pada orangnya dan disposisinya daripada situasi yang relatif stabil atau tetap. Misalnya pada saat Anda melihat seseorang senyum-senyum, maka Anda akan cenderung melihatnya sedang senang hati. Lalu orang mau pergi ke pasar rakyat (pasar rakyat sama dimana-mana), karena dia dianggap memang suka pergi ke sana. Kedua, Anda tidak memiliki cukup informasi mengenai situasinya. Misalnya Anda melihat teman Anda menangis. Anda tidak tahu situasinya seperti apa. Nah oleh sebab itu Anda akan melihat teman Anda menangis disebabkan karena dirinya mudah menangis. Ketiga, proses atribusi terdiri dari dua tahap. Mula-mula dengan cepat melihat faktor disposisi, lalu mengoreksi setelah melihat adanya faktor situasi. Nah, orang cenderung tidak mau berpayah-payah melihat faktor situasinya.

Efek Pelaku Pengamat.

Ini adalah bias dimana orang yang berperilaku (pelaku) memiliki kecenderungan untuk menekankan pengaruh situasional sebagai sebab perilakunya, dan yang melihat perilaku itu (pengamat) cenderung menekankan pengaruh disposisional.
 Misalnya Anda memakai pakaian yang mencolok. Maka Anda akan mengatakan bahwa Anda hanya menyesuaikan diri dengan tren. Adapun orang lain melihat Anda memang norak.

Bias menghibur diri (self-serving bias) dab menghakimi diri (self defeating)

Bias menghibur diri (self serving bias) adalah kecenderungan seseorang untuk menganggap hal-hal positif diakibatkan karena dirinya sendiri (disposisinya) dan hal-hal negatif disebabkan oleh orang lain (situasinya).
 Misalnya Anda berhasil menyelesaikan ujian dengan gemilang, maka Anda akan menganggap bahwa keberhasilan itu karena Anda memang cerdas dan berkemampuan tinggi. Sebaliknya jika Anda gagal lulus ujian, maka Anda menganggap karena soalnya terlalu sulit dan tidak pernah diajarkan. Pendek kata, orang lain dituduh bertanggung Jawab atas kegagalan Anda.

Bias ini mengurangi rasa tanggung Jawab Anda atas suatu peristiwa negatif yang terjadi. Oleh sebab itu Anda tidak akan terlalu menyalahkan diri. Sebaliknya jika ada peristiwa positif, Anda merasa cukup mampu melakukan sesuatu sehingga menambah rasa percaya diri Anda.

Menghakimi diri (self defeating) adalah kebalikan dari bias menghibur diri (self serving bias). Seseorang justru cenderung menganggap sebab dari perilaku positif berasal dari situasi dan sebab perilaku negatif dari disposisi.
 Jika lulus ujian, maka dianggap soalnya terlalu mudah, nilai ditambahi oleh penilai, sedang beruntung. Jika gagal ujian dianggap karena bodoh. Biasanya orang depresi mental melakukan penghakiman diri atau self defeating ini.

Menyalahkan diri (self-blame)

Menyalahkan diri (self blame) adalah kecenderungan seseorang untuk secara berlebihan menyalahkan diri sendiri, terutama bila mengalami kegagalan.
 Mungkin Anda sering menemui orang seperti ini. Apapun kejadiannya, selalu diri sendiri disalahkan. Ada teman sedih, menyalahkan diri sendiri tidak mampu menyenangkan hati sang teman. Suami gagal dalam usahanya, menyalahkan diri sendiri tidak cukup banyak membantunya.

Efek relevansi dengan keuntungan pribadi (hedonic relevance)

Ini adalah kecenderungan seseorang untuk menilai lebih positif perilaku orang lain yang menguntungkan dirinya pribadi, dan menilai lebih negatif perilaku yang merugikan dirinya.
 Misalnya teman Anda mencuri buah di kebun tetangga. Jika Anda mendapat bagian buah curian (positif bagi Anda), maka Anda cenderung menganggapnya melakukan pencurian hanya untuk senang-senang saja. Sebaliknya jika Anda tidak mendapat bagian (negatif bagi Anda), maka Anda menganggap teman Anda berjiwa maling.

Bias Egosentris.

Ini adalah kecenderungan seseorang untuk menilai orang dengan menggunakan diri sendiri sebagai referensi, alias beranggapan orang lain juga melakukan hal yang sama.
 Misalnya Anda membaca buku karena mengisi waktu luang. Maka Anda menganggap orang lain membaca buku juga untuk mengisi waktu luang. Padahal boleh jadi tugasnya menuntut untuk membaca buku.


Atribusi dan Konflik.

Atribusi Anda bisa menyebabkan konflik dengan orang lain. Misalnya Anda melihat kekasih Anda berpakaian sangat rapi dan wangi saat mau pergi keluar tanpa Anda. Nah, mungkin Anda menuduhnya karena ia berniat memikat orang lain. Oleh sebab itu bisa muncul pertengkaran. Demikian juga jika kekasih Anda terlambat datang memenuhi janjinya, lalu Anda menganggapnya karena ingin putus dengan Anda.

Konflik juga bisa terhindar kalau masing-masing pihak memiliki atribusi yang positif. Misalnya perilaku kekasih Anda memakai pakaian terbaik dan berdandan sehingga tampak cantik adalah untuk menyenangkan Anda. Maka tentu saja itu tidak akan menimbulkan konflik. Sebaliknya jika dianggap untuk memikat orang lain, maka akan menimbulkan konflik.

Atribusi juga bisa menyelesaikan konflik. Anda terlihat oleh kekasih Anda sedang ngobrol dengan laki-laki lain. Lalu kekasih Anda marah karena menganggap Anda naksir laki-laki yang diajak ngobrol. Anda lalu menjelaskan pada kekasih Anda, bahwa laki-laki yang Anda ajak ngobrol adalah teman sekolah sejak SD sampai SMA, yang sudah lama tidak bertemu. Jadi wajar kalau ngobrol banyak. Nah, jika kekasih Anda kemudian mengubah atribusinya, maka konflik akan terhindar.

D.   Attitudes dan Persuasi
1.      Attitudes
            Attitudes sering diartikan sebagai sikap. Attitudes sangatlah penting bagi seorang individu dimana berhubungan dengan aspek-aspek dari perilaku social kita. Attitudes seseorang mengandung evaluasi terhadap suatu objek, baik individu lain , benda, ataupun kejadian tertentu, dan mengandung penilaian yang bersifat positif ataupun negatif.
 Menurut Lahey, attitudes adalah keyakinan atau kepercayaan seseorang yang mempengaruhi perasaan dan perilaku  seseorang . Dari definisinya, dapat kita simpulkan bahwa attitudes terdiri dari tiga kompenen utama , yaitu :
a.       Keyakinan
Keyakinan (beliefs) merupakan komponen kognitif dari attitudes seseorang. Keyakinan ini meliputi pemikiran seorang individu yang terlibat dalam penilaian suatu objek. Keyakinan seorang individu bisa bernilai positif maupun negatif.
b.      Perasaan
Perasaan individu merupakan aspek kognitif dari attitudes. Perasaan meliputi aspek emosional seseorang terhadap suatu hal yang bisa saja kuat (positif) ataupun lemah (negatif).
c.       Perilaku.
Perilaku sebagai aspek ketiga dari attitudes meliputi melakukan atau tidak melakukan suatu perilaku.
Adanya suatu keyakinan dan perasaan tertentu akan suatu hal akan membentuk sikap (attitudes) seseorang terhadap hal tersebut. Dengan attitudes yang terbentuk itu, individu menentukan perilakunya. Akan tetapi, suatu perilaku yang dilakukan seorang individu juga dapat mempengaruhi attitudes yang telah terbentuk. 
Sikap (attitudes) setiap orang terhadap suatu objek tidaklah  sama. Hal ini dikarenakan attitudes merupakan hal yang diperoleh dari proses belajar. Individu mempelajari sikap yang ditunjukkannya dari pengalaman ia sendiri maupun dari pengalaman orang lain. Jika dipelajari dari pengalaman diri sendiri, maka individu cenderung belajar berdasarkan proses belajar Classical Conditioning. individu mengalami suatu pengalaman dan kemudian menentukan sikapnya sendiri. Jika dipelajari dari orang lain, maka seorang individu cenderung belajar melalui proses modeling atau meniru dan melalui reinforcement.
Attitudes seseorang sangatlah penting dalam lingkungan sosial dikarenakan tiga fungsi utama dari attitudes, yaitu :
a.      Predispose
Fungsi utama dari attitudes yaitu mempengaruhi dan mengarahkan individu untuk berperilaku dalam cara  tertentu. Karena fungsinya mengarahkan individu dalam berperilaku, maka attitudes juga berfungsi dalam memprediksi perilaku seseorang. Meskipun attitudes berfungsi mengarahkan perilaku, namun tidak memaksa seorang individu untuk berperilaku.
b.      Interpret
Fungsi kedua dari attitudes adalah sebagai arahan dalam mengintepretasi suatu hal , mengkategorisasikan objek dan kejadian tertentu, serta menentukan perilaku. Intepretasi setiap individu terhadap suatu hal yang sama bisa berbeda –beda, bisa positif ataupun negatif. Perilaku yang muncul kemudian dipengaruhi oleh interpretasi individu itu sendiri.
c.       Evaluate
Fungsi attitudes yang lain yaitu untuk mempertahankan keyakinan yang dimiliki seseorang , yang dianggap sangat penting oleh individu tersebut.

2.      Persuasi
Attitudes seseorang yang telah terbentuk akan sulit untuk diubah, terutama yang bersifat negatif. Akan tetapi, sulit tidak berarti tidak mungkin. Terdapat usaha – usaha yang dilakukan pihak- pihak tertentu untuk mengubah sikap (attitudes) seseorang. Perubahan attitudes dilakukan melalui proses persuasi. Hal ini banyak dilakukan oleh perusahaan- perusahaan agar masyarakat mengubah sikap mereka dan membeli produk dari perusahaan tersebut.   

Persuasi adalah suatu proses yang bertujuan untuk mengubah attitudes seseorang melalui argument-argumen. Proses ini merupakan proses alamiah dan penting dalam kehidupan sehari-hari kita. Argumen yang bersifat persuasif pada dasarnya tidak berfokus pada seberapa logis pernyataan tersebut . Akan tetapi, berfokus pada tiga faktor utama berikut ini, yaitu : 

1.      Pembicara atau narasumber
Pembicara sebagai sumber informasi sangat mempengaruhi kuatnya persuasi suatu argumen. Pembicara berperan sebagai orang yang akan mempersuasi orang lain. Suatu argument akan lebih bersifat peruasif apabila berasal dari sumber terpercaya, ahli, dan disukai. Berikut karakteristik dari pembicara yang mempengaruhi tingkat persuasive suatu argument:

a.       Kredibilitas
Persepsi pendengar mengenai kredibilitas pembicara sangat mempengaruhi seberapa persuasif suatu argumen. Kredibilitas pembicara tidak dinilai dari pendidikan, status, ataupun intelegensi pembicara, melainkan apakah pembicara merupakan sumber yang dapat dipercaya mengenai argument yang dinyatakan. Semakin terpercaya si pembicara  , maka semakin persuasif suatu argumen.

Carl Hovland kemudian mengeluarkan teori yang disebut dengan sleeper effects (Hovland & Weiss, 1951).  Hovland menyatakan bahwa suatu pesan dari pembicara yang kurang terpercaya, tidak akan efektif dalam mempersuasif orang lain awalnya. Akan tetapi, setelah suatu selang waktu, pesan atau informasi tersebut akan berpotensi mempengaruhi orang lain. Hal ini dikarenakan seseorang cenderung melupakan siapa yang menyatakan informasi yang mana.

b.      Daya tarik
Seorang pembicara yang menarik, populer, terkenal, dan disukai akan lebih efektif dalam mengubah pendapat orang lain. Akan tetapi, daya tarik seseorang memiliki batasan dalam mempersuasi orang lain, meskipun daya tarik merupakan hal utama dalam periklanan.

c.       Tujuan
Seorang pembicara yang dengan sangat jelas bertujuan mengubah opini orang lain , sebenarnya malah cenderung kurang efektif dalam mempersuasi orang lain.

2.      Isi komunikasi
Isi dari argumen yang dinyatakan tentu saja mempengaruhi tingat persuasif suatu argument. Terdapat beberapa karakteristik dari isi pesan yang mempengaruhi tingkat persuasif suatu argument, yaitu :

a.       Memunculkan ketakutan
Suatu informasi dalam komunikasi yang menimbulkan rasa takut cenderung lebih efektif dalam mempersuasi orang lain. Seorang pendengar akan terpengaruh oleh rasa takut dalam informasi tersebut, hanya jika emosi yang dimunculkan dalam pesan tersebut cukup kuat, jika pendengar merasa bahwa hal yang menakutkan tersebut akan terjadi pada mereka, dan jika dalam pesan tersebut juga disampaikan cara menghindari hal menakutkan tersebut.

b.      Argumen dua-sisi
Dalam perdebatan suatu topik, akan selalu terdapat 2 sisi. Sisi pro dan sisi kontra, sisi positif dan sisi negatif, atau sisi keuntungan dan sisi kerugian. Dalam mempersuasi pendengar, pembicara haruslah mempertimbangkan apakah akan menyatakan kedua sisi dari suatu argument, atau hanya salah satu sisi dimana ia berpihak. Pertimbangan ini dilakukan dengan mempertimbangkan tipe pendengar.

Ketika pendengar hanya memiliki informasi tentang salah satu sisi argument yang ingin dipersuasi oleh pembicara, maka sebaiknya argument yang dinyatakan hanya satu sisi. Akan tetapi, apabila pendengar mengetahui keseluruhan tentang topic yang dibicarakan, akan lebih baik jika argument yang dinyatakan dua sisi.

c.       Cara penyampaian pesan
Pesan yang disampaikan dalam kata-kata dalam cara yang berbeda akan menyebabkan orang merespon pesan tersebut dengan cara yang berbeda. Penyampaian pesan dengan cara yang berbeda akan membantu meningkatkan efektifitas suatu pesan dalam mempersuasi pendengar atau pembaca. Karena itu, dalam mempersuasi orang lain, tidak hanya apa yang kita katakan yang penting melainkan juga bagaiman penyampaian pesan tersebut dilakukan.

3.      Pendengar
Karakteristik pendengar sebagai orang yang menerima pesan juga mempengaruhi tingkat persuasif suatu argumen. Dalam suatu komunikasi, pendengar berperan sebagai orang yang akan dipersuasi. Dengan mengetahui karakteristik pendengar juga dapat membantu pembicara untuk mempersuasi pendengar.
a.       Intelegensi
Secara umum, orang dengan intelegensi yang rendah akan lebih mudah dipersuasi. Akan tetapi, apabila informasi yang disampaikan bersifat kompleks, maka orang dengan intelegensi tinggi yang lebih mudah dipersuasi.
b.      Kebutuhan diterima lingkungan social
Individu yang sangat memerlukan social approval, atau kebutuhan untuk diterima atau disukai oleh masyarakat, akan lebih mudah untuk dipersuasi.
c.       Self-esteem
Individu dengan self-esteem yang sedang cenderung lebih mudah dipersuasi. Sedangkan individu dengan self-esteem yang terlalu tinggi atau terlalu rendah cenderung telah memiliki pendapat mereka sendiri yang cukup kuat, sehingga lebih sulit untuk dipersuasi.
d.      Ukuran pendengar
Ketika pendengar merupakan sekelompok orang, maka persuasi cenderung lebih efektif dibandingkan ketika pendengar hanya seorang.
e.       Dukungan social
Individu yang memiliki teman atau kenalan dengan attitudes yang sama cenderung lebih susah dipersuasi dibandingkan individu yang memiliki perbedan attitudes dengan teman sekitarnya.

Selain tiga faktor utama di atas, terdapat faktor lain yang ikut berperan dalam upaya mengubah attitudes seseorang, yaitu teknik persuasi. Teknik persuasi adalah berbagai cara yang digunakan seseorang ketika sedang berusaha meyakinkan orang lain dengan argumennya . Teknik persuasi yang digunakan sebenarnya bergantung pada pembicaranya. Tergantung bagaimana si pembicara mengutarakan pesan dari argumennya kepada pendengar, agar si pendengar setuju.
Yang pertama adalah The Central Route of Persuasion. Dalam upaya mempersuasi orang, pembicara menyampaikan informasi dengan argument yang kuat, analisis, fakta dan juga logis. Pembicara juga harus menyampaikan argumennya dengan jelas dan detail. Penggunaan metode ini berfokus pada isi dari argumennya. Metode ini akan efektif apabila pendengarnya memiliki keinginan tinggi untuk mengetahui fakta dan isu yang sebenarnya.
Berkebalikan dengan yang pertama, yaitu metode The Peripheral Route of Persuasion.  Dalam penggunaan metode ini, pembicara bukan memberikan argumen- argumen kuat mengenai isu-isu dan fakta tetapi cenderung memberikan pidato yang bersifat antusias dan bersemangat. Pendengar cenderung lebih mementingkan karakteristik pembicaranya. Oleh karena itu, pembicara cenderung lebih berusaha membangun attitudes yang positif dari pedengarnya sehingga akan setuju dengan sudut pandangnya. 
Selain itu, teknik persuasi klasik yang cukup sering digunakan yaitu  foot-in-the-door technique. Dalam penggunaan teknik persuasi ini, pembicara awalnya akan melakukan suatu permohonan yang kecil terlebih dahulu. Jika permohonan tersebut disetujui dan dikabulkan, maka ia akan meminta permohonan yang lebih besar lagi dan cenderung lebih mudah diterima.
 Teknik lain yang cukup mirip dengan foot-in-the-door technique yaitu low-ball technique . Teknik ini mirip dengan teknik yang pertama karena pada awalnya pendengar ditawari suatu perjajian. Setelah disetujui, maka perjanjian tersebut berubah. Biasanya perubahan ini cenderung merugikan pendengar. Akan tetapi karena perjanjian awal yang telah disetujui, perubahan tersebut cenderung lebih mudah diterima pendengar.
3.      Perubahan Attitudes dan Perilaku : Cognitive Dissonance Theory
Teknik – teknik yang dibahas di atas merupakan teknik yang digunakan ketika seseorang ingin mempersuasi orang lain dengan tujuan mengubah attitudes orang lain.  Berusaha mengubah menunjukkan ada attitudes  yang berbeda antara satu orang dengan orang lain, yang juga menimbulkan perilaku yang berbeda. Ini merupakan hal yang wajar karena setiap orang memiliki persepsi yang berbeda-beda.
Akan tetapi, juga sangat memungkinkan apabila perilaku seorang individu berbeda dengan attitudes-nya sendiri. Perilaku yang muncul berbeda dengan perilaku yang seharusnya muncul dari attitudes-nya. Keadaan seperti ini kemudian oleh Leon Festinger (1957) dijelaskan melalui Cognitive Dissonance Theory.
Cognitive dissonance adalah rasa tidak nyaman yang muncul karena adanya perbedaan antara perilaku kita dengan attitudes kita. Menurut Leon, rasa tidak nyaman yang muncul tersebut akan memotivasi individu untuk melakukan apapun untuk mengecilkan rasa tersebut. Hal yang biasa dilakukan adalah melakukan salah satu perubahan antara perubahan perilaku atau perubahan attitudes .
Jika perubahan perilaku yang dilakukan maka, individu akan mengubah perilakunya sesuai dengan attitudes nya sendiri. Perubahan perilaku ini biasanya dinamakan counterattitudinal behavior. Jika perubahan perilaku sulit dilakukan, maka seorang individu cenderung memilih untuk mengubah attitudes-nya. Yaitu dengan menambah unsure-unsur baru atau melakukan perubahan attitudes sehingga sesuai dengan perilakunya. Individu cenderung akan memilih perubahan yang lebih gampang dilakukan tergantung kasus yang dialaminya.



E.   Prejudice dan Stereotypes
Individu dalam kehidupan bermasyarakatnya pasti memiliki pandangan tentang orang lain, memiki attitudes tersendiri tentang orang lain. Attitudes tentang orang lain tersebut muncul di saat pertama individu bertemu dengan individu lain.

 Dalam kehidupan sehari-hari, bukanlah tidak mungkin bahwa attitudes yang muncul itu bersifat negatif.  Hal ini mungkin saja disebabkan karena adanya persepsi yang salah mengenai seseorang tersebut karena ia berasal dari suatu kelompok tertentu. Suatu attitudes yang bersifat negatif, merugikan dan berbahaya karena adanya generalisasi yang tidak akurat terhadap sekelompok individu disebut prasangka (prejudice).

Setiap orang dalam kehidupan bermasyarakat pasti berusaha menghindarkan diri memiliki prasangka terhadap kelompok-kelompok tertentu. Akan tetapi, secara tidak sadar, sebenarnya setiap individu bereaksi dengan cara yang berbeda-beda terhadap anggota dari kelompok yang berbeda. Meskipun hal ini selalu dihindari, namun kadang tidak dapat kita kontrol dan muncul dengan sendirinya. Keadaan ini disebut juga dengan automatic prejudice.

 Pada umumnya, prasangka muncul berdasarkan warna kulit, agama, jenis kelamin, umur, atau karakteristik yang mudah terlihat lainnya. Munculnya prasangka ini dikarenakan kesalahan generalisasi suatu kelompok yang kita sebut dengan stereotype.
Stereotype yang terdapat dalam diri individu tentang orang lain, baik yang positif maupun negative sebenarnya tetap merugikan. Hal ini dikarenakan tiga alasan berikut :
1.      Stereotype menghalangi kita memperlakukan anggota suatu kelompok sebagai seorang individu.
Ketika kita mengetahui stereotype suatu kelompok tertentu, dan kemudian kita bertemu dengan seseorang yang berasal dari kelompok tersebut, maka tidak terhindarkan bahwa kita akan langsung berpikiran bahwa karakteristik orang tersebut adalah sama dengan stereotype kelompok dimana ia berasal. Dengan pemikiran seperti itu, maka kita cenderung memperlakukan orang tersebut seperti anggota kelompok lainnya, tanpa memikirkan bahwa ia bisa saja memiliki karakteristik yang berbeda dengan kelompoknya.

2.      Stereotype menyebabkan ekspektasi perilaku yang sempit.
Dengan adanya stereotype tertentu, maka kita cenderung untuk memprediksikan perilaku seorang individu sesuai dengan perilaku kelompok individu tersebut. Apabila terjadi perbedaan perilaku yang muncul, maka kita cenderung menyatakan perilaku yang berbeda tersebut sebagai suatu penyimpangan atau abnormal.

3.      Stereotype mengarahkan pada atribusi yang salah.
Teori atribusi menyatakan bahwa manusia cenderung selalu berusaha untuk menjelaskan mengapa suatu hal dapat terjadi, dan mencari tahu penyebabnya. Yang peling sering dilakukan yaitu berusaha menjelaskan suatu perilaku, bak yang dilakukan orang lain ataupun dilakukan sendiri.
 Jika seorang individu telah memiliki stereotype tertentu , maka akan mempengaruhi  atribusi yang dilakukan individu tersebut.  Kesalahan atribusi ini kemudian juga memperkuat prasangka terhadap suatu kelompok tertentu, karena manusia cenderung hanya melihat fakta-fakta pendukung prasangka mereka dan menolak yang berlawanan.

Jika ditanyakan mengapa stereotype dan prejudice bisa muncul dalam lingkungan social, maka terdapat tiga sebab utama penyebab munculnya stereotype dan prejudice, yaitu :
1.      Konflik Realistik
Realistic conflict theory menyatakan bahwa individu yang sedang merasa frustasi atau marah ketika sedang berkompetesi dengan kelompok lain, akan melihat kelompok lain dengan pandangan yang sangat negatif.

2.      “Kita” versus “Mereka”
Individu dalam kehidupan bermasyarakat cenderung membagi diri menjadi dua kelompok. Kelompok “kita” dan kelompok “mereka”. Dalam suatu penelitian yang dilakukan oleh Sherif dan Sherif (1953) , setelah serangkaian kegiatan, maka kedua kelompok mulai bersiteru dan mulai memberi nama panggilan. Ini menjadi awal munculnya prasangka.

3.      Social Learning
Tidak dapat dipungkiri bahwa prasangka dan juga stereotype  juga merupakan hasil belajar. Proses belajar yang terjadi biasanya dengan modeling terhadap prasangka dan stereotype yang diekspresikan orang lain.

Dikarenakan dampak negatif yang ditimbulkan dalam kehidupan bermasyarakat, maka tentu saja kita harus berusaha melawan prasangka yang muncul. Ketika kita berusaha melawannya , maka kita juga berusaha mengurangi dan menghilangkan prasangka yang telah ada secara perlahan-lahan. Terdapat tiga upaya efektif yang dapat dilakukan , yaitu :
1.      Mengenali  prasangka
Banyak orang yang tidak ingin mengakui bahwa dirinya juga memiliki prasangka terhadap suatu kelompok tertentu. Maka dari itu tahap pertama untuk melawan perjudice yaitu dengan menyadari terlebih dahulu prasangka yang ada .

2.      Mengontrol  Automatic Prejudice
Ketika seorang  individu bahkan tidak menyadari bahwa ia memiliki prasangka, maka ia tidak akan mampu mengontrol reaksi yang muncul akibat automatic prejudice tersebut.  Bahkan ketika seseorang telah menyadari adanya prasangka dalam dirinya, tidaklah mudah untuk mengontrol reaksi yang muncul. Oleh karena itu, hal kedua yang harus dilakukan adalah berusaha mengontrol reaksi yang muncul tersebut.

3.      Meningkatkan hubungan antar Prejudiced-groups.
Seperti yang telah dibahas sebelumnya, bahwa prasangka adalah sesuatu yang dipelajari. Karena itu, prasangka juga dapat diubah. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan interaksi langsung dengan kelompok lain. Akan tetapi interaksi tersebut dapat efektif jika terjadi dalam beberapa kondisi berikut :
a.       Kedua kelempok memiliki status yang setara
Ketika dua anggota kelompok dengan status yang berbeda berinteraksi, maka prasangka yang telah ada tersebut tidak mungkin akan dapat dihilangkan.
b.      Anggota setiap kelompok memandang anggota kelompok lain sebagai sama dengan kelompok yang mereka hormati, bukan sebagai pengecualian.
Ketika seorang individu berinteraksi dengan anggota dari suatu kelompok, namun mengganggapnya hanya sebagi pengecualian, prasangka terhadap kelompok tersebut tidak akan pernah bisa hilang.
c.       Kedua kelompok bekerja sama dalam tugas yang bersifat kooperatif bukan kompetitif.
Ketika dua kelompok saling berkooperatif, maka akan timbul rasa saling menghormati. Akan tetapi jika kedua kelompok saling berkompetisi, maka menjadi penyebab pembentukan prasangka.
d.      Interaksi yang dilakukan bersifat informal.
Jika interaksi yang dilakukan bersifat formal, maka interaksi efekftif tidak akan terjadi. Upaya melawan atau menghilangkan prasangka juga tidak akan efektif.

F.    GROUP AND SOSIAL INFLUENCE

Manusia dalam kehidupan sosialnya pasti berinteraksi dengan lingkungan sosialnya. Interaksi yang dilakukan umunya dalam bentuk berkelompok, atau melakukan interaksi dengan suatu kelompok tertentu. Adanya interaksi dalam bentuk berkelompok dan juga lingkungan social sebenarnya mempengaruhi manusia itu sendiri. Berikut beberapa hal yang terjadi dalam kehidupan social manusia.

1.      Lynch Mobs
Pada awal abad kedua puluh, seorang pria Amerika Afrika bernama William Carr ditangkap dan dituduh membunuh sapi dari keluarga kulit putih di Louisiana selatan. Sebuah gerombolan warga mengambil Carr dari sheriff, yang tidak melawan mereka, dan menggantungnya tanpa pengadilan. Selama era di mana penggantungan ini berlangsung, rata-rata dua orang Amerika Afrika digantung setiap minggu di Amerika Serikat. Penggantungan mengatakan banyak tentang prasangka rasial topik tetapi mereka juga mengatakan banyak tentang efek dari kelompok pada perilaku individu. Diketahui bahwa, individu dalam kelompok tersebut belum pernah membunuh sebelumnya. Akan tetapi, ada sesuatu dalam kelompok yang mengubah mereka menjadi massa yang sangat mampu membunuh (Postmes & Spears, 1998).
            Dalam kondisi tertentu, berada dalam grup dapat membuat seseorang merasa anonymous dan tidak teridentifikasi. Perasaan ini dapat menyebabkan proses yang dikenal sebagai deindividuation (Zimbardo, 1969). Dalam keadaan ini, orang kurang menyadari perilaku mereka sendiri dan kurang peduli dengan apa yang orang lain pikirkan tentang perilaku mereka. Hasilnya dapat meningkatkan kemungkinan melakukan tindakan yang  biasanya tidak akan dilakukan. Ketika seseorang berada dalam satu grup dan merasa tidak teridentfikasi, maka semakin agresif seseorang.
2.      Uninvolved Bystanders
Kasus Kitty Genoves yang tewas dalam pertarungan dengan orang lain selama 30 menit, yang disaksikan oleh 38 tetangganya tanpa seorangpun tergerak untuk keluar menolongnya ataupun menelpon polisi agar kematian dapat dicegah. Peristiwa ini merupakan satu kejadian yang menjadi contoh adakalanya sekelompok individu tidak melakukan aapapun ketika kita melihat orang lain melakukan sesuatu.
Sebuah penelitian menemukan bahwa pada umumnya individu cenderung tidak perduli disaat orang lain dalam kerumunan massa. Hal ini dikarenakan kehadiran orang lain akan mempengaruhi persepsi seseorang tentang perlukah orang lain tersebut ditolong? Dan apakah itu menjadi tanggung jawab kita untuk menolong? Sebagaimana yang digambarkan dalam satu konsep, yaitu manakala seseorang masuk pada suatu kelompok akan terjadi penurunan terhadap tanggung jawab personal, konsep ini disebut Diffusion of responsibility. Diffusion of responsibility adalah efek berada dalam kelompok yang tampaknya mengurangi rasa tanggung jawab pribadi masing-masing anggota kelompok untuk bertindak dengan tepat.

3.      Working and Solving Problems in Groups

Pada umunya manusia lebih sering berinteraksi dalam kelompok. Misalnya, belajar kelompok, tim kerja, rapat organisasi ataupun usaha. Apakah bekerja dalam kelompok akan menunjukkan sisi yang terbaik dari kita? Hal tersebut sangat tergantung pada situasi, apabila situasinya kita masuk dan menjadi anggota suatu kelompok menyenangkan mungkin akan terjadi peningkatan kemampuan individu seseorang. Situasi ini disebut dengan social facilitation (Levine, Resnick, & Higgins, 1993). Sedangkan jika terjadi adalah sebaliknya maka fenomena ini disebut dengan social loafing. Social facilitation adalah efek dimana bekerja dalam sebuah grup dapat meningkatkan performa seseorang dalam pekerjaannya. Social loafing adalah kecenderungan anggota kelompok untuk bekerja kurang keras saat kinerja kelompok diukur daripada ketika kinerja individu diukur.

Faktor terjadinya social loafing yaitu:
(a)             Banyaknya anggota kelompok
Menurut para tokoh semakin besar sebuah kelompok, akan semakin berkurang kontribusi anggota kelompok untuk kelompoknya(Sorkin, Hays, & West, 2001).

Penyebab munculnya hal itu karena ada 3 hal ,yaitu :
(a)                Ada anggota kelompok percaya bahwa anggota kelompok yang lain dapat berkontribusi lebih baik daripada dirinya.
(b)               Anggota kelompok lain tidak memberikan respon yang positif terhadap kontribusi yang telah diberikan individu tersebut.
(c)                ada anggota kelompok yang merasa bahwa kelompoknya tidak membutuhkannya

(b)   Jenis tugas
Jenis tugas merupakan faktor penting dalam menunjukkan performa individu di dalam sebuah kelompok. Ketika mengerjakan suatu jenis pekerjaan di dalam kelompok, seorang individu bisa saja merasa terganggu dengan kehadiran individu yang lain. Tetapi bisa juga sebaliknya, kehadiran individu lain justru memacu kinerja individu tersebut menjadi lebih baik. Menurut teori arousal, suatu pekerjaan yang mudah bagi individu akan semakin mudah dan cepat terselesaikan apabila ada individu lain yang menyaksikannya. Namun sebaliknya, pekerjaan yang sulit bagi individu akan semakin sulit dan lama terselesaikan apabila disaksikan individu lain. Misalnya, musisi professional yang sudah sangat terlatih akan bermain lebih baik saat pertunjukannya disaksikan oleh banyak orang. Tetapi bagi musisi amatir yang belum terlatih, kehadiran orang lain justru akan membuatnya grogi.

Group Problem Solving
Adakalanya orang-orang lebih suka memecahkan masalah yang kompleks secara kelompok daripada memecahkannya sendiri (Laughlin & others, 2003; Sorkin & others, 2001). Tetapi ada saat dimana proses pengambilan keputusan tersebut salah dan berakibat fatal walaupun individu-individu dalam kelompok tersebut dianggap kompeten. Hal inilah yang disebut dengan groupthink (Irvink Jannis, 1982). Ada 3 faktor yang dapat menyebabkan terbentuknya groupthink:
(1)   Proses polarisasi
Polarisasi merupakan suatu keadaan dimana anggota kelompok menyatakan pendapatnya secara lebih ekstrim tanpa mempedulikan persoalan yang sesungguhnya.
(2)   Sifat kohesif anggota kelompok
Cohesiveness merupakan suatu keadaan dimana anggota kelompok saling terkait secara erat, cenderung berpendapat sama, dan enggan menerima pendapat yang dianggap berbeda dari pendapat umum. Oleh karena itu, pendapat dan keadaan yang bertentangan seringkali tidak dimunculkan sehingga mengarah pada keputusan yang salah. Untuk menghindari hal ini, paling tidak harus ada seorang anggota yang diminta untuk memerankan peranan devil’s advocate, untuk selalu menyatakan pendapat-pendapat yang berbeda dengan pendapat anggota kelompok pada umumnya.
(3)   Jumlah individu dalam kelompok
Jumlah anggota kelompok sangat berpengaruh terhadap proses interaksi dalam kelompok. Dalam kelompok kecil, interaksinya bersifat dialog interaktif karena semua dapat saling bertukar pikiran secara langsung. Sedangkan dalam kelompok, besar, akan sulit terjadi dialog interaktif. Justru yang terjadi adalah serial monologue, dimana para anggota secara bergantian memberikan semacam pidato, bukan lagi interaksi dua arah. Sehingga seringkali, pendapat minoritas tidak sempat dimunculkan.

4.      Conformity, Social Roles, dan Obedience
Ketika mendengar kata sosial, kita pasti memiliki apresiasi untuk mengatakan adanya pengaruh yang kuat dari situasi sosial pada perilaku individu. Jelas, situasi sosial mempengaruhi kita setiap hari. Kita harus dapat mempertimbangkan kecenderungan kita untuk menyesuaikan diri dengan harapan teman kelompok dan budaya, pengaruh sosial ditentukan oleh peran dan norma pada perilaku kita, dan kecenderungan kita untuk patuh mengikuti petunjuk dari tokoh yang berwenang (yang sering disebut sebagai pemimpin).

 Conformity (Penyesuaian)
Ketika kita adalah anggota kelompok, kita cenderung untuk berperilaku seperti orang-orang yang berada dalam kelompok kita. Conformity adalah memilih menyerah pada tekanan kelompok untuk bertindak seperti anggota kelompok tersebut, bahkan ketika tidak ada peraturan yang telah dibuat.
Sebuah studi tentang conformity dikemukakan oleh Solomon Asch (1956). Aktor dan partisipan ditempatkan di ruangan yang sama. Dengan menempatkan partisipan diurutan akhir. Mereka diperlihatkan sejumlah kartu bergambar garis dan disuruh memilih dari pilihan jawaban garis mana yang panjangnya sama. Kemudian aktor dengan sengaja menjawab jawaban yang salah. Soal yang diberikan mudah dan jawabannya sangat jelas, namun 74 persen dari kasus, peserta menyesuaikan dengan tekanan kelompok dan memberikan jawaban yang salah, padahal waktu yang diberikan cukup lama. Ketika para partisipan diwawancara selepas percobaan, sebagian besar dari mereka mengaku tidak percaya pada jawaban dominan namun tetap menjawab salah karena takut dianggap aneh atau dicemooh. Sedangkan sebagian kecil dari mereka berkata kalau mereka benar-benar mengira bahwa jawaban partisipan aktor adalah benar.
Mengapa peserta mau melakukan konformitas padahal mengetahui itu merupakan jawaban yang salah? Conform terjadi karena dua alasan berikut:
  1. Untuk mendapatkan penghargaan menghindari hukuman (seperti persetujuan sosial atau dissaproval)
  2. Untuk mendapatkan informasi.

Dalam situasi Asch, orang-orang tampaknya meminta persetujuan dan menghindari ketidaksetujuan. Bagaimana kita tahu? Ketika percobaan line-judgment yang sama dilakukan dalam cara yang sedikit berbeda memungkinkan peserta penelitian untuk membuat penilaian mereka secara pribadi, hampir tidak ada conformity kepada penilaian yang keliru atas individu lain. Rupanya, kita mampu membuat pikiran kita secara pribadi bahkan dalam menghadapi tekanan dari orang lain, tapi kita sering ikut-ikutan dengan orang lain yang sama sekali tidak menceminkan perilaku kita.
Kadang-kadang, bagaimanapun, kita conform dengan perilaku orang lain pada tingkat yang jauh lebih dalam. Hal ini terbukti dari eksperimen Asch itu. Sherif (1936) melakukan penelitian yang mengambil keuntungan dari fenomena persepsi yang disebut efek autokinetik. siswa yang diminta memperkirakan jarak antara gerak suatu titik cahaya dilayar dalam suatu ruang gelap. Di kala eksperimen dilakukan dengan masing-masing subyek secara terpisah. Jawaban-jawaban yang diberikan cenderung berbeda satu sama lain. Namun manakala eksperimen dilakukan dengan beberapa orang subyek sekaligus dan para subyek dimungkinkan untuk saling mempengaruhi, maka jawaban subyek cenderung sama. Dari eksperimen ini Sherif menyimpulkan bahwa kelompok orang cenderung membentuk suatu norma sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketika dalam situasi yang ambigu (seperti efek autokinetic), seseorang akan melihat ke orang lain yang tahu lebih banyak atau lebih baik dan akhirnya memilih mengadopsi norma kelompok. Mereka ingin melakukan hal yang benar tetapi mungkin tidak memiliki informasi yang tepat. Mengamati orang lain dapat memberikan informasi ini. Hal ini dikenal sebagai kesesuaian (conformity) informasi.

Beberapa faktor yang meningkatkan kemungkinan conformity di dalam sebuah grup:
1. Size of the Group (ukuran kelompok).
Semakin banyak orang yang ada di kelompok, semakin besar kemungkinan kita untuk melaju bersama. Ketika kelompok terlalu besar, maka conformity akan berkurang.

2. Unanimous groups (kelompok yang sepakat).
 Conformity tinggi ketika kita menghadapi kelompok yang semuanya merasakan satu visi dan satu misi—kelompok tersebut dinamakan unanimous group. Tapi conformity akan berkurang bahkan ketika satu orang lain dalam kelompok merasa seperti yang kita lakukan (Nail, MacDonald, & Levy, 2000).

3.
Culture and conformity (budaya dan pencocokan diri).
Sebuah artikel oleh Psikolog Inggris Rod Bond dan Peters Smith (1996) menunjukkan bahwa budaya merupakan faktor penting yang mempengaruhi conformity.. Conformity terjadi pada semua budaya, tetapi orang-orang yang dari budaya individualistik, menempatkan penekanan pada kesejahteraan individu—seperti di Amerika Utara—akan sangat kurang conformitynya pada percobaan Asch daripada orang-orang dari budaya kolektif, yang menekankan kesejahteraan masyarakat sebagai satu-kesatuan bukan individu.

4. Gender dan conformity.
 Menurut stereotipe tradisional, laki-laki lebih mandiri dan lebih kecil kemungkinannya untuk conform daripada perempuan. Penelitian yang dilakukan sebelum pertengahan 1950-an dianggap bahwa perempuan lebih mungkin untuk conform dibandingkan laki-laki pada waktu itu. Penelitian yang lebih baru, bagaimanapun, telah menunjukkan bahwa hal ini tidak lagi terjadi (Eagly, 1978; Eagly & Jhonson, 1990).


 Social Roles and Social Norms (Peran Sosial dan Norma Sosial)
Ketika orang bekerja sama dalam kelompok, upaya setiap individu perlu dikoordinasikan dengan orang lain untuk menghindari kekacauan. Sebagai respon terhadap kebutuhan ini, setiap kebudayaan telah berkembang banyak peran sosial dan norma-norma sosial untuk memberikan pedoman seperti apa yang diharapkan dari kita (Levine & lainnya, 1993). Setiap peran sosial memberikan orang yang berbeda dari harapan untuk perilaku yang sesuai. Masing-masing peran sosial memberikan orang sebuah setting yang berbeda dari harapan untuk sebuah perilaku yang tepat yaitu:
1. Social roles (peran sosial): pedoman yang ditentukan oleh budaya, yang memberitahu masyarakat apa-apa perilaku yang diharapkan dari budaya.
2. Social norms (norma sosial): pedoman yang diberikan oleh setiap budaya untuk menilai perilaku yang dapat diterima dan tidak dapat diterima.
Peran sosial memiliki dampak yang kuat pada perilaku individu. Ketika kita ditempatkan dalam peran baru, perilaku kita sering berubah sesuai peran. Dalam contoh dramatis dari kekuatan peran sosial yang mempengaruhi perilaku, psikolog sosial Philip Zimbardo dari Universitas Stanford memandang peran sosial yang ada di penjara. Zimbardo tertarik dengan peran-peran tertentu karena ia merasa bahwa mereka menyebabkan penganiayaan terhadap narapidana dengan cara yang memperburuk perilaku mereka (Haney & Zimbardo, 1998). Dalam percobaan penjara Zimbardo itu, relawan ditugaskan untuk peran sosial sebagai penjaga dan tahanan secara dramatis serupa dengan peran tersebut.
Hal ini jelas bahwa peran sosial yang kuat dapat mempengaruhi perilaku kita. Apa yang tidak selalu jelas adalah kita bermain banyak peran dalam hidup kita dan bahwa setiap peran mempengaruhi kita apakah kita menyadarinya atau tidak. Kita memainkan peran manusia, pasangan, ayah, orang paruh baya, orang keturunan Irlandia, heteroseksual, saudara, anak, dan profesor psikologi, untuk nama yang jelas. Setiap peran merupakan sumber dari pengaruh sosial terhadap perilaku, apakah suka atau tidak. Kita bisa bekerja keras tidak menjadi khas laki-laki atau ayah yang khas, namun peran ini pasti mempengaruhi kita.
Selain sesuai dengan peran sosial kita, kita juga berperilaku sesuai dengan aturan lisan dan tak terucapkan dikenal sebagai norma-norma sosial. Norma-norma sosial budaya kita memberitahu kita bagaimana kita harus bersikap dalam situasi tertentu. Orang Amerika akan menghindari kontak mata dengan orang lain di lift dan menutup mulut ketika batuk karena ini adalah norma-norma sosial untuk Amerika. Kebanyakan orang sesuai dengan norma-norma sosial budaya mereka.

Obedience (Kepatuhan)
Salah satu penelitian yang paling menarik dan menakutkan dalam psikologi sosial yaitu tentang obedience, melakukan apa yang diperintahkan kepada kita oleh orang-orang yang berwenang. Penelitian ini didorong sebagian oleh tentara dalam Perang Dunia II, dan perang-perang lainnya, yang berkomitmen dalam kekejaman. Orang macam apa yang akan bekerja sama dalam menyalahgunakan dan membunuh 6 juta orang Yahudi selama Holocaust Perang Dunia II? Orang macam apa yang tidak akan menolak untuk mematuhi perintah tersebut? Yang menakjubkan jawaban dari penelitian ini adalah bahwa sebagian besar dari kita adalah orang semacam itu.
Stanley Milgram (1963, 1965) melakukan serangkaian penelitian tentang masalah obedience. Penelitiannya menguji studi memori. Pada penelitian yang dilakukan oleh Millgram, beliau menggunakan sengatan listrik yang bervariasi apabila ada subjek yang salah menjawab, menemukan bahwa 65 % dari para subjek tetap patuh pada tugasnya sampai pada tingkat tegangan 450 volt dan tidak seorang subjek pun yang berhenti memberikan sengatan pada tegangan 300 volt. Millgram membuktikan bahwa potensi bagi timbulnya kepatuhan merupakan semacam persyaratan penting untuk hidup bermasyarakat yang mungkin telah terbentuk dari dulu.
Milgram mengulangi penelitian dan menemukan hasil yang sama, dengan laki-laki dan perempuan dari berbagai latar belakang kehidupan yang berbeda: mahasiswa, pekerja kerah biru, pekerja kerah putih, dan profesional. Studi ini telah direplikasi di negara-negara lain juga. Hasil studi ini adalah salah satu penemuan yang menyakitkan betapa kekuatan situasi sosial dan kewewenangan sesat dapat menggunakan orang-orang biasa untuk patuh melaksanakan keinginan mereka.
Hal ini sedikit menghibur bahwa penelitian kemudian menemukan bahwa individu mungkin akan kurang untuk mematuhi instruksi memberikan kejutan tegangan tinggi ketika "korban" mereka berada di ruangan yang sama dengan mereka, bertindak tertekan oleh guncangan. Selain itu, ketika prestisi eksperimen berkurang, persentase orang dalam obedience menurun menjadi sekitar 50 persen. Ketika eksperimen memberikan instruksi melalui telepon secara pribadi, hanya 10 persen mematuhi instruksi eksperimen itu sampai akhir. Obedience juga berkurang ketika individu dituntun untuk merasa lebih tanggung jawab atas tindakan mereka dan ketika pemerintah memiliki tujuan untuk mementingkan diri sendiri. Fakta-fakta terakhir ini sedikit menggembirakan, tetapi mereka tidak mengurangi dampak dari temuan Millgram ini: kekuatan situasi sosial terhadap perilaku manusia dapat mengerikan dan harus dijaga dengan cara melawan.
Orang yang ingin mendapatkan penerimaan dari lingkungannya cenderung untuk mengikuti norma-norma yang ada dalam lingkungan tersebut. Dengan mematuhi tuntutan lingkungan, individu berharap dapat menjadi bagian dan diteroma oleh lingkungannya. Berdasarkan dari pengertian di atas, maka dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa obedience merupakan kesediaan seseorang untuk melakukan sesuatu karena tekanan otoritas tanpa mengetahui manfaatnya.

5.  Sisi Positif dari Kelompok
Apakah diskusi ini cenderung meyakinkan Anda bahwa orang tidak harus bekerja sama dalam hal apapun, atau bahwa satu-satunya cara untuk tetap menjadi orang yang baik adalah untuk tinggal di sebuah gua sebagai seorang pertapa? Jawabannya seharusnya. Pikirkan apa manfaatnya ketika kita berada dalam kelompok. Ada banyak hal, yang ketika hanya satu orang saja yang bekerja, hasilnya tidak akan dicapai.
Kelompok juga bisa menjadi salah satu metode terapi—memikirkan kelompok pendukung dan group therapies dan dapat memberikan dukungan emosional dan comfort. Oleh karena itu, kita harus menyadari efek negatif dari kelompok pada perilaku kita, sehingga kita tidak memilih untuk menghindari kelompok tetapi agar kita dapat menciptakan dampak positif dari dalam kelompok itu sendiri.





BAB III
PENUTUP
A.   Kesimpulan

Psikologi social adalah bidang ilmu psikologi yang mempelajari tingkah laku manusia dalam berinteraksi dengan orang lain di lingkungan sosialnya. Sebagai makhluk social, individu pasti melakukan interaksi dengan orang lain. Dalam interaksi yang dilakukan, bisa berupa interaksi antar individual, interaksi individual-kelompok , atau interaksi antar kelompok. Ketika berinteraksi secara individual atau secara berkelompok, perilaku yang muncul tidaklah sama. Ini dikarenakan adanya pengaruh lingkungan social pada individu ketika berkelompok.

Dalam interaksi dengan orang lain, individu juga memiliki suatu sikap tertentu. Sikap (attitudes) yang dimiliki ini dapat mempengaruhi perasaan dan perilaku dari individu tersebut. Karena itu,  terdapat pula upaya pengubahan attitudes yang dilakukan pihak-pihak tertentu yang bertujuan agar individu mengubah perilakunya yang disebut persuasi.

Individu dalam kehidupan bermasyarakat, tidak dapat dihindari bahwa sikap (attitudes) yang dimiliki juga dipengaruhi oleh lingkungan. Seorang individu cenderung memiliki prasangka-prasangka tertentu yang muncul dikarenakan generalisasi yang tidak tepat pada suatu kelompok, yang disebut stereotipe. Prasangka yang muncul ini tentu saja sangat berdampak negatif dalam kehidupan sosial.
B.   Saran
Adanya pengaruh lingkungan sosial terhadap individu memberikan dampak negatif dalam perilaku individu. Masyarakat sebagai individu bermoral sebaiknya tidak terpengaruh akan dampak-dampak negatif dari kelompok sebagai lingkungan sosialnya. Selain itu, setiap individu dalam kehidupan bermasyarakat juga harus selalu berusaha melawan prasangka-prasangka yang telah ada terhadap suatu anggota kelompok tertentu.   




DAFTAR PUSTAKA

Lahey, Benjamin B. 2007. Psychology An Introduction. New York: McGraw-Hill
Plotnik, Rod. 2005. Introduction to Psychology 7th Edition. USA : Wadsworth Thomson Learning

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar