Rabu, 03 Juli 2013

TEORI - TEORI ATTRIBUSI

A.    TEORI-TEORI ATRIBUSI


1.    Psikologi “Naif” dari Heider
          Minat Psikologi Sosial terhadap proses atribusi diawali dengan teori Fritz Heider (1958) yang peduli tentang usaha kita untuk memahami arti perilaku orang lain, khususnya bagaimana kita mengidentifikasi sebab-sebab tindakannya. Secara umum, perilaku dapat disebabkan oleh daya-daya personal (personal forces), seperti kemampuan atau usaha dan oleh daya-daya lingkungan (environmental forces), seperti keberuntungan atau taraf kesukaran suatu tugas. Jika suatu tindakan diatribusi sebagai daya personal, akibatnya akan berbeda dengan tindakan yang diatribusi dengan daya lingkungan. 

        Kita mengatribusi suatu tindakan disebabkan daya personal, hanya jika orang yang kita persepsi tersebut mempunyai kemampuan untuk bertindak, berniat untuk melakukan dan berusaha untuk menyelesaikan tindakannya. Jika demikian, kita beranggapan bahwa atribusi tersebut berhubungan dengan sifatnya, sehingga dapat kita gunakan untuk meramalkan tindakan-tindakan di masa yang akan datang. Di sisi lain, jika kita mengatibusi sebagai daya lingkungan, hal ini tidak ada hubungannya dengan sifat orang yang kita persepsi, sehingga tidak dapat digunakan untuk meramalkan tindakan-tindakan di masa yang akan datang.

2.    Teori Atribusi dari Kelley

          Teori Harold Kelley merupakan perkembangan dari Heider. Fokus teori ini, apakah tindakan tertentu disebabkan oleh daya-daya internal atau daya-daya eksternal. Kelley berpandangan bahwa suatu tindakan merupakan suatu akibat atau efek yang terjadi karena adanya sebab. Oleh karena itu, Kelley mengajukan suatu cara untuk mengetahui ada atau tidaknya hal-hal yang menunjuk pada penyebab tindakan, apakah daya internal atau daya eksternal.

Kelley mengajukan tiga faktor dasar yang kita gunakan untuk memutuskan hal tersebut, yaitu:

a.    Konsistensi : respon dalam berbagai waktu dan situasi, yaitu sejauh mana seseorang merespon stimulus yang sama dalam situasi atau keadaan yang yang berbeda. Misalnya A bereaksi sama terhadap stimulus pada kesempatan yang berbeda, maka konsistensinya tinggi.

b.    Informasi konsensus : bagaimana seseorang bereaksi bila dibandingankan dengan orang lain, terhadap stimulus tertentu. Dalam artian sejauh mana orang-orang lain merespon stimulus yang sama dengan cara yang sama dengan orang yang kita atribusi. Misalnya bila A berperilaku tertentu, sedangkan orang-orang lain tidak berbuat demikian, maka dapat dikatakan bahwa consensus orang yang bersangkutan rendah.

c.    Kekhususan (distinctiveness) : sejauh mana orang yang kita atribusi tersebut memberikan respon yang berbeda terhadap berbagai stimulus yang kategorinya lama.
  • Atribusi eksternal : konsistensi tinggi, konsensus tinggi dan kekhususan tinggi.
  • Atribusi internal : konsistensi tinggi, konsensus rendah dan kekhususan rendah.
  • Atribusi internal-eksternal: konsistensi tinggi, konsensus rendah dan kekhususan tinggi.


3.    Teori Correspondence Interference (Jones dan Davis)
       Setiap individu seolah-olah akan membuat inferensi, seperti inferensi statistik, yaitu mencari pola umum (hukum umum) dengan membuang informasi yang tidak relevan. Sebutan inferensi koresponden juga disebabkan karena teori ini mencari korespondensi antara perilaku dengan atribusi disposisional (internal) yang berbeda dengan penyebab-penyebab atribusi situasional. Teori ini dimaksudkan untuk mengetahui apakah suatu perilaku itu disebabkan oleh disposisi (karakteristik yang bersifat relatif stabil) pada individu atau tidak.

        Pertama-tama yang harus diketahui adalah akibat. Dengan mengetahui akibatnya, dapat diketahui intensi atau niat orang berbuat. Diyakini ada niat atau kesengajaan dalam berbuat, kalau individu mempunyai pengetahuan dan kemampuan untuk melakukan suatu tindakan.
Setelah diketahui niat atau kesengajaan maka diinterferensi apakah perbuatan tersebut diperbuat karena faktor disposisional atau bukan. Untuk meyakini adanya faktor disposisional, maka harus ada dua hal yang dipenuhi, yaitu:

  1. Noncommon effects (akibat khusus) : perilaku tersebut bersifat unik pada individu, yaitu diantara berbagai pilihan yang mungkin dilakukan, individu memilih yang paling unik
  2. Social desirebility (kepantasan atau kelayakan sosial) : seberapa jauh perbuatan mempunyai nilai sosial yang tinggi. Kalau suatu perbuatan memang diinginkan banyak orang, maka perbuatan tersebut mempunyai nilai kepantasan sosial yang tinggi.

4.    Teori Bernard Weiner

Untuk memahami seseorang dalam kaitannya dengan suatu kejadian, Weiner menunjuk dua dimensi, yaitu:
a.    Dimensi internal-eksternal sebagai sumber kausalitas
b.    Dimensi stabil-tidak stabil sebagai sifat kausalitas

 

Dimensi-dimensi Atribusi Menurut Weiner :

a.    Stabil secara internal    : kemampuan, intelegensi, karakteristik-karakteristik fisik.
b.    Stabil secara eksternal    : kesulitan tugas, hambatan lingkungan.
c.    Tidak stabil secara internal : Effort, mood, fatique.
d.    Tidak stabil secara eksternal : keberuntungan (luck), kebetulan (chance), kesempatan (opportunity).

Terimakasih sudah membaca Psikologi: Teori-Teori Atribusi Menurut Heider, Kelly, Bernard Weiner, Jonas dan Davis.Sering-sering ammpir yeah


DAFTAR PUSTAKA


Joko Winarto (2011, 12 Maret). Teori Atribusi Berner Weiner dan Implementasinya dalam
Pembelajaran. Diakses pada 10 April 2012 dari http://kompasiana.com/teori-atribusi-berner-weiner
dan.htm
Mara Suzana (2010, 22 November). Atribusi Sosial. Diakses pada 10 April 2012 dari http://marasuzanabintimasrizal.blogspot.com/atribusi-sosial.htm

Walgito, Bimo. 2003. Psikologi Sosial. Yogyakarta: ANDI

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar